Steven. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

What do you think about my blog?

Perbedaan Psikologi Pendidikan dengan Psikologi Sekolah

Istilah psikologi pendidikan dan psikologi sekolah seringkali disamakan oleh masyarakat. Padahal sebenarnya keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar. Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada pemahaman tentang proses belajar dan mengajar dalam lingkungan pendidikan. Sedangkan, psikologi sekolah adalah merupakan wilayah dari terapan ilmu psikologi, yaitu di sekolah.


Dari pengertian tersebut, maka dapat dilihat perbedaan antara keduanya bahwa psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, bagaimana anak-anak belajar, mengingat dan berpikir, bagaimana proses mental mereka berkembang selama proses pembelajaran, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah. Sebaliknya, psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik di sekolah dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, perilaku dan emosinya. Dengan kata lain, psikologi sekolah hanya berfokus pada kegiatan pembelajaran di sekolah, sedangkan psikologi pendidikan jauh lebih luas dibandingkan psikologi sekolah dan tidak terbatas pada lingkungan sekolah saja melainkan berfokus pada proses atau setting pembelajaran pada setiap individu pada umumnya guna meningkatkan kualitas penyerapan dan penerapan ilmu yang didapatkan individu.

Psikolog Pendidikan
Psikolog pendidikan mempelajari bagaimana seharusnya suatu program pendidikan dilaksanakan. Psikolog pendidikan biasanya membantu anak-anak atau orang muda yang mengalami masalah dalam pengaturan pendidikan dengan tujuan meningkatkan proses belajar mereka. Dalam menghadapi anak-anak tantangannya mencakup masalah sosial, emosional, atau kesulitan belajar. Psikolog pendidikan juga mempelajari manusia, khususnya pada bidang perkembangan belajar individu. Psikolog pendidikan biasanya melakukan penelitian guna mengembangkan kualitas pendidikan seorang anak ataupun bagaimana kualitas pendidikan yang seharusnya diberikan pada anak sesuai dengan usia mereka karena apabila suatu ilmu diberikan pada umur anak yang tidak sesuai, maka akan timbul berbagai masalah. Psikolog pendidikan juga biasanya membuat suatu kualifikasi pada individu yang ingin menjadi guru.

Tugas-tugas Psikolog pendidikan
  1. Menilai kebutuhan belajar dan emosional dengan observasi dan konsultasi
  2. Mengembangkan dan mendukung program manajemen terapi dan perilaku
  3. Merancang dan mengembangkan kursus untuk orang tua, guru dan lain-lain yang terlibat dalam pendidikan anak-anak dan remaja mengenai kasus "bullying"
  4. Merancang dan mengembangkan proyek-proyek yang melibatkan anak-anak dan kaum muda 
  5. Menulis laporan untuk membuat rekomendasi formal tentang tindakan yang akan diambil, termasuk pernyataan formal
  6. Menasihati, negosiasi, membujuk dan mendukung guru, orang tua dan profesional pendidikan lainnya 
  7. Menghadiri pertemuan kasus yang melibatkan tim multi disiplin tentang cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan sosial, emosional, perilaku dan pembelajaran anak-anak dan kaum muda dalam perkembangan mereka
  8. Mengutamakan efektivitas: konteks dan lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak dipandang sebagai faktor yang sangat penting
  9. Penghubung dengan profesional lain dan memfasilitasi pertemuan, diskusi dan kursus
  10. Mengembangkan dan mengkaji kebijakan
  11. Melakukan penelitian aktif
  12. Merumuskan intervensi yang berfokus pada penerapan pengetahuan, keterampilan dan keahlian untuk mendukung inisiatif daerah dan nasional
  13. Mengembangkan dan menerapkan intervensi yang efektif untuk mempromosikan kesejahteraan psikologis, sosial, perkembangan emosi dan perilaku dan untuk meningkatkan standar pendidikan 

Psikolog Sekolah
Psikolog sekolah berperan dalam membantu anak-anak maupun generasi muda dalam mencapai kesuksesan akademis, sosial, perilaku dan emosi mereka di lingkugan sekolah yang berguna untuk membentuk mind set anak didik mereka. Pada umumnya, mereka biasanya bekerja sama dengan para pendidik, orang tua, dan orang-orang lainnya yang terlibat di sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat dan mendukung yang memperkuat hubungan antara rumah dengan sekolah dan dengan seluruh komunitas murid-murid. Psikolog sekolah biasanya juga terlibat dalam menilai murid-murid apakah mereka membutuhkan bantuan, seperti konseling, terapi secara verbal, dan belajar dengan bantuan asisten guru didalam kelas. Psikolog sekolah biasanya juga menyelenggarakan atau melaksanakan latihan kepada para guru dan murid-murid dan mereka kadang-kadang juga berperan dalam melakukan seleksi masuk sekolah. Selain itu, psikolog sekolah juga bertugas mengidentifikasi murid apakah kemampuan mereka diatas rata-rata atau apakah mereka mempunyai pola perilaku tertentu seperti ADHD, dyslexia dan lain-lain. Dengan mengidentifikasi kasus-kasus tersebut, psikolog sekolah berhak untuk menentukan program pembelajaran seperti apa yang seharusnya dijalani oleh anak-anak tersebut, seperti program akselerasi, program pendidikan khusus, program pemberian perhatian yang lebih terhadap anak-anak tersebut, dan lain-lain.

Tugas Psikolog sekolah 
Dalam hal kaitannya dengan murid:
  1. Memberikan konseling, pengajaran, dan pendampingan bagi mereka berjuang dengan masalah sosial, emosi, dan perilaku
  2. Meningkatkan prestasi dengan memandang hambatan belajar dan menentukan strategi instruksional terbaik untuk meningkatkan pembelajaran
  3. Meningkatkan kesehatan dan ketahanan dengan memperkuat komunikasi dan keterampilan sosial, pemecahan masalah, pengontrolan kemarahan, self-regulation, self-determination, dan optimisme
  4. Meningkatkan pemahaman dan penerimaan beragam budaya dan latar belakang

Dalam hal kaitannya dengan murid dan keluarganya:
  1. Mengidentifikasi masalah belajar dan perilaku yang mengganggu keberhasilan di sekolah
  2. Mengevaluasi kelayakan untuk layanan pendidikan khusus
  3. Memberikan dukungan sosial, emosional, dan perilaku yang sehat kepada siswa
  4. Mengajarkan cara mengasuh yang baik dan meningkatkan kolaborasi rumah-sekolah
  5. Membuat arahan dan membantu mengkoordinasikan dukungan layanan komunitas

Dalam hal kaitannya dengan para guru:
  1. Mengidentifikasi dan menyelesaikan hambatan akademis untuk belajar
  2. Merancang dan mengimplementasikan sistem monitoring kemajuan siswa
  3. Mendesain dan melakukan intervensi akademis dan perilaku
  4. Mendukung instruksi individual yang efektif
  5. Menciptakan lingkungan kelas yang positif
  6. Memotivasi semua siswa untuk terlibat dalam pembelajaran

Dalam hal kaitannya dengan administrator:
  1. Mengumpulkan dan menganalisa data yang berhubungan dengan perkembangan sekolah, hasil yang didapatkan siswa, dan persyaratan akuntabilitas
  2. Melaksanakan program-program pencegahan pelebaran sekolah yang membantu mempertahankan iklim sekolah yang kondusif untuk belajar
  3. Mempromosikan kebijakan sekolah dan praktek yang menjamin keselamatan semua siswa dengan mengurangi kekerasan di sekolah, bullying, dan pelecehan
  4. Menanggapi krisis dengan menyediakan kepemimpinan, pelayanan langsung, dan koordinasi dengan pelayanan masyarakat yang dibutuhkan
  5. Merancang, melaksanakan, dan mengumpulkan dukungan untuk program sekolah kesehatan jiwa yang menyeluruh

Dalam hal kaitannya dengan Pelayanan masyarakat:
  1. Mengkoordinasikan penyerahan jasa kepada siswa dan keluarga mereka di dalam dan di luar sekolah
  2. Membantu proses transisi siswa baik menuju dan dari lingkungan sekolah dan komunitas pembelajaran, seperti perawatan perumahan atau program peradilan anak


Daftar Pustaka:
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Apa itu bimbingan sekolah???

Saat ini sering kali kita mendengar mengenai istilah guru BP di sekolah-sekolah. Tapi tidak semua orang tahu apa kepanjangan dari BP. BP merupakan kepanjangan dari Bimbingan penyuluhan. Jadi, guru BP itu seharusnya tugasnya adalah memberikan bimbingan kepada murid-murid yang ada di suatu sekolah. Sekarang muncullah pertanyaan baru. Sebenarnya apa sih bimbingan itu?? Apa sebenarnya tujuan dari bimbingan itu? Apa bimbingan itu sendiri sangat diperlukan?? Pada posting kali ini, penulis akan membahas mengenai hal-hal tersebut.


Bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam membuat keputusan yang bijaksana dan dalam penyesuaian diri, serta dalam memecahkan masalah kehidupan mereka. Bimbingan mengharapkan agar penerima bimbingan dapat berkembang mandiri dan mampu bertanggungjawab bagi dirinya sendiri. Jadi, tujuan dasar bimbingan adalah mengembangkan potensi individu untuk mampu memecahkan masalah-masalahnya dan berusaha semampunya untuk menyesuaikan dirinya terhadap kehidupannya.

Dilihat dari pengertian tersebut, jelaslah bahwa bimbingan merupakan suatu kegiatan yang sangat mutlak dilakukan oleh sekolah-sekolah apabila mereka berkeinginan untuk memaksimalkan potensi anak murid mereka. Dari pengertian tersebut juga dapat diuraikan tujuan dari bimbingan yang terbagi dalam 3 tujuan, yaitu:
  1. Tujuan remedial, yaitu tujuan bimbingan dimana berusaha mengarahkan murid agar mereka bisa berfungsi pada tingkat normal menurut kelompok atau budayanya. Selain itu, tujuan remedial ini juga berkaitan dengan menghilangkan kualitas-kualitas negatif pada suatu orang (meliputi perasaan negatif, seperti cemas, merasa tidak mampu, dan lain-lain).
  2. Tujuan yang sifatnya peningkatan perkembangan, yaitu tujuan dimana pusat perhatiannya adalah membantu murid dalam mencapai kemampuan psikologis semaksimal mungkin sesuai tingkat perkembangan usianya. Dalam tujuan ini, diharapkan setiap murid dapat berkembang sesuai dengan yang harusnya, bahkan diharapkan untuk melebihinya yang artinya semua murid bisa meningkatkan fungsinya diatas norma kelompok biasanya. Apabila kondisi ini terjadi, maka tujuan dalam peningkatan perkembangan telah berhasil diwujudkan.
  3. Tujuan Preventif, yaitu usaha untuk mengurangi kebutuhan untuk intervensi bimbingan remedial. Kondisi ini dapat dicapai dengan jalan mengurangi masalah-masalah yang rawan terjadi yang bisa dilakukan dengan memberikan bimbingan yang berbobot. Apabila tujuan ini tercapai, maka kita akan dapat menghemat tenaga, waktu dan dana yang harusnya diperlukan untuk intervensi bimbingan remedial.

Itulah tujuan-tujuan dari bimbingan sekolah. Sekarang penulis akan membahas juga mengenai kapan sih bimbingan diperlukan??

Bimbingan sekolah diperlukan ketika:
  1. Kita ingin menghasilkan murid-murid yang bisa bersikap bijak dalam mengambil keputusan.
  2. Kita menginginkan murid kita untuk bisa bekerja sama dengan sesuatu yang tidak bisa kita hindari dengan cara memberikan pemahaman kepada mereka untuk bisa menerima situasi yang tidak ada pilihan lain selain dihadapi.
  3. Murid-murid tidak sadar bahwa mereka mempunyai pilihan lain dari mereka sendiri.
  4. Murid-murid sedang dalam keadaan tidak optimal untuk membuat keputusan, seperti sedang lelah, depresi dan lain-lain.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan mengenai bimbingan diatas, dapat kita simpulkan bahwa bimbingan memang haruslah dilakukan oleh semua sekolah yang ada. Dan 1 hal yang pasti, kita seharusnya tidak menunggu sampai suatu hal yang negatif terjadi terlebih dahulu, baru bertindak. Tetapi, baiknya bimbingan segera dilakukan secepatnya untuk mencegah hal-hal buruk dan bisa meningkatkan fungsi semua anak muridnya. Mencegah lebih baik daripada mengatasi… Thanks for your attention.. =)

Daftar Pustaka:
Sukadji, S. (2000). Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Depok: Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Apa-apa saja yang termasuk dalam Disability?

Dalam posting kali ini, saya akan menjelaskan sedikit mengenai apa itu disability dan apa-apa saja yang termasuk didalamnya?? So.. Enjoy it!!


Disability adalah keterbatasan (ketidakmampuan) personal yang membatasi pelaksanaan fungsi seseorang. Ketidakmampuan tersebut dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu:
  1. Gangguan Indera. Termasuk didalamnya adalah anak-anak yang memiliki keterbatasan penglihatan dan pendengaran.
  2. Gangguan Fisik. Termasuk didalamnya adalah Gangguan ortopedik (berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang atau sendi), Cerebral Palsy (Gangguan berupa lemahnya koordinasi otot), Gangguan Kejang-kejang (seperti Epilepsi).
  3. Retardasi Mental. Retardasi Mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-ny di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari.
  4. Gangguan Bicara dan Bahasa. Yaitu sejumlah masalah problem bicara (seperti gangguan artikulasi, gangguan suara, dan gangguan kefasihan) dan problem bahasa (kesulitan untuk menerima informasi dan bahasa ekspresif).
  5. Ketidakmampuan Belajar. Suatu gangguan yang cukup menyulitkan dimana anak-anak mengalami kesulitan dalam belajar atau mereka tidak mampu belajar padahal mereka memiliki IQ yang normal dan tidak mengalami retardasi mental. Termasuk didalamnya adalah dyslexia yaitu kerusakan berat dalam kemampuan membaca dan mengeja.
  6. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Yaitu bentuk ketidakmampuan anak dimana secara konsisten menunjukkan satu atau lebih ciri-ciri berikut ini, yaitu: kurang perhatian, hiperaktif, dan impulsif. ADHD sendiri terbagi 3 yaitu: ADHD dengan kecenderungan lebih pada kurang perhatian, ADHD dengan kecenderungan lebih pada hiperaktif /impulsif, dan ADHD dengan kecenderungan baik itu kurang perhatian maupun hiperaktif/impulsif.
  7. Gangguan Perilaku dan Emosional. Yaitu Problem serius dan terus menerus yang berkaitan dengan hubungan, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah, dan juga berhubungan dengan karakteristik sosio-emosional.

Sekian Pembahasan mengenai Disability.. Hope it will be useful. Thx for your attention.. ^^

Daftar Pustaka:
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (Edisi Kedua). Jakarta: Prenada Media Group

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

3 Fenomena Pendidikan beserta pembahasannya

Kelompok 6
Steven (10-025)
Vivian Felicia (10-043)
Vera Gandhi (10-057)

Fenomena- fenomena yang kami dapatkan dan telah kami bahas antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Mengenai masalah Homeschooling (http://ndal.wordpress.com/2007/05/17/fenomena-pendidikan-mereka-ramai-ramai-ke-homeschooling/)
  2. Perbedaan jurusan IPA dan IPS dalam lingkungan sekolah (http://www.cerita-ilmuku.co.cc/2011/01/fenomena-pendidikan-indonesia-2.html
  3. pendidikan emansipatoris yang tadinya bertujuan membawa manusia keluar dari kungkungan kebodohan dan mencapai budi pekerti yang baik, kini mulai berbelok ke arah yang pragmatis nan materialistis. (http://zainurie.wordpress.com/2008/10/14/laskar-pelangi-dan-fenomena-pendidikan-kita/)

Pembahasan Fenomena Pertama (Homeschooling):
Berdasarkan kasus diatas, terlihat bahwa Homeschooling bisa dikatakan sebagai salah satu fenomena pendidikan yang paling meluas. Homeschooling adalah proses layanan pendidikan secara sadar, teratur dan terarah yang dilakukan oleh orangtua atau keluarga (kadang menggunakan bantuan tutor) dan proses belajar mengajar berlangsung dalam situasi yang kondusif di dalam rumah sendiri. Biasanya Homeschooling adalah program pendidikan alternatif yang memungkinkan anak untuk berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing ataupun untuk mereka-mereka yang terlalu jenius ataupun yang memiliki keterbatasaan fisik.

Teori Psikologi Pendidikan
Berdasarkan teori psikologi pendidikan, homeschooling biasanya ditujukan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus atau bisa dikatakan anak-anak yang tidak biasa, seperti terlalu jenius, cacat fisik dan lain sebagainya. Menyekolahkan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah formal biasa tentu saja akan menimbulkan masalah. Untuk anak yang terlalu jenius, tentu saja dia tidak akan bisa mengikuti pelajaran dengan lancar karena kemampuan otaknya lebih dari anak-anak biasa. Untuk anak-anak yang cacad fisik bisa saja menjadi korban Bully teman-temannya. Hal ini akan mengakibatkan kondisi psikologis anak terganggu. Anak-anak berkebutuhan khusus bukan hanya seperti terlalu jenius ataupun cacad fisik saja. Masih banyak gangguan-gangguan lain yang membuat dia dikatakan sebagai anak-anak berkebutuhan khusus/anak-anak tidak biasa, seperti retardasi mental (IQ dibawah 70), dyslexia (Ketidakmampuan untuk membaca atau mengeja), dan lain sebagainya. Walaupun semua anak wajib disekolahkan, tetapi apakah menyekolahkan anak berkebutuhan khusus ke sekolah biasa akan memberikan dampak yang positif?? Untuk itulah dibuat suatu program yang dinamakan homeschooling dimana anak-anak berkebutuhan khusus ini dapat belajar di rumah.

Munculnya Homeschooling ini juga membuka kesempatan kepada setiap anak untuk mengembangkan potensinya masing-masing sesuai mata pelajaran yang dia sukai. Kegiatan homeschooling ini tentu saja akan membuat anak-anak bisa mengembangkan potensinya secara maksimal. Selain itu, pergerakan pendidikan dari teacher-centered ke learner centered juga telah membuat program homeschooling ini semakin diminati dimana setiap murid/anak dapat bersikap sangat aktif dalam proses pembelajaran di rumahnya sendiri dibandingkan di sekolah-sekolah formal. Akan tetapi, kegiatan homeschooling ini juga memberikan dampak negatifnya yaitu diantaranya adalah mengenai perbedaan sosialisasi. Dengan Homeschooling, si anak akan kurang berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat. Selain itu, Sekolah regular/formal merupakan tempat belajar yang khas yang dapat melatih anak untuk bersaing dan mencapai keberhasilan setinggi-tingginya. Jadi apabila anak belajar secara Homeschooling, otomatis dia akan kekurangan skill daya bersaing.

Teori Pendidikan keluarga
Ditinjau dari teori pendidikan keluarga, kegiatan homeschooling ini sendiri memberikan dampak baik kepada si anak. Hal tersebut karena kegiatan homeschooling adalah proses pembelajaran yang dilakukan dirumah dimana semua anggota keluarga berkumpul dan kadang ada juga kegiatan dimana anak langsung diajari oleh orang tuanya tanpa adanya tutor. Hal tersebut tentu saja akan meningkatkan hubungan orang tua dengan anaknya yang akan menghasilkan kedekatan emosional yang sangat berharga. Dengan kedekatan seperti ini, orang tua akan lebih mudah menanamkan nilai-nilai moral yang berharaga kepada si anak.

Teori Bimbingan sekolah
Ditinjau dari teori bimbingan sekolah, kegiatan homeschooling ini akan membuat anak bersikap aktif dalam mengembangkan potensi mereka masing-masing. Sebagaimana disebutkan dalam teori intelegensi Gardner bahwa intelegensi setiap orang di setiap bidang berbeda. Dengan adanya program Homeschooling ini, potensi anak bisa dikembangkan secara maksimal sehingga anak nantinya akan sangat menguasai bidang yang sangat diminatinya yang nantinya akan sangat bermanfaat bagi si anak. Kondisi ini tentu saja berbeda dimana anak sekolah di sekolah reguler yang mengajarkan semua mata pelajaran, baik yang anak itu sukai ataupun tidak secara terstruktur. Hal ini mengecilkan kemungkinan anak untuk mengembangkan potensinya secara maksimal dan pada akhirnya anak akan lebih sulit untuk menonjolkan keunggulannya.


Pembahasan Fenomena Kedua (IPA & IPS):
Berdasarkan artikel tersebut bisa kita lihat bahwa adanya pemisahan kelas menjadi IPA dan IPS merupakan suatu fenomena pendidikan yang masih diperdebatkan hingga sekarang. Adanya mindset orang yang mengangap bahwa IPA lebih baik, anak IPA lebih pintar dan sebagainya dimana dikatakan bahwa IPA itu lebih unggul daripada IPS. Sebenarnya perlu diketahui bahwa mindset seperti tersebut tidaklah tepat.

Teori Psikologi Pendidikan
Ditinjau dari teori psikologi pendidikan, ada banyak hal yang mempengaruhi seorang anak memilih jurusan IPA atau IPS, seperti motivasi dan kemampuan atau minat belajarnya.
  • Teori motivasi. ada 2 macam motivasi dalam meraih sesuatu yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi mencapai tujuan untuk sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Dalam memilih sebuah jurusan bisa saja seorang anak dipengaruhi faktor intrinsik, misalnya dia memilih jurusan IPS karena dia senang akan pelajaran sosial. Sedangkan apabila dipengaruhi faktor ekstrinsik, bisa saja karena ada tuntutan dari orang tuanya dia seorang anak memilih jurusan IPA padahal dia sangat tidak suka pelajaran eksakta. Hal ini bisa membuat anak tersebut merasa tertekan dan bahkan bisa ketinggalan pelajaran apabila dia memang tidak tertarik akan pelajaran tersebut. Namun karena adanya tuntutan orang sekitar yang menganggap anak IPA lebih pintar membuat dia mmilih jurusan yang salah.
  • Minat atau keahlian pelajar. Menurut Gardner ada banyak tipe intelegensi spesifik atau kerangka pikiran yang mempengaruhi minat atau keahlian seseorang. Setiap individu dibedakan berdasarkan keahliannya tersebut. Berkaitan dalam pemilihan jurusan, biasanya selalu dikatakan anak IPA intelegensinya lebih tinggi daripada anak IPS. Bisa dikatakan hal ini salah besar. Menurut Gardner intelegensi setiap orang tidak bisa dikatakan lebih tinggi atau lebih rendah karena keahlian setiap orang berbeda-beda. Anak yang keahlian matematikanya lebih dominan memang lebih cocok untuk memilih jurusan IPA, sebaliknya anak yang keahlian intrapersonalnya lebih baik mungkin lebih baik memang lebih cocok memilih jurusan IPS. Oleh karena itu tidak bisa dikatakan anak IPA pasti lebih pintar karena kemampuan setiap orang berbeda-beda dan tidak bisa dibanding-bandingkan.

Teori Pendidikan Keluarga
Ditinjau dari pendidikan keluarga, endidikan keluarga adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Fungsi pendidikan dalam keluarga tak terlepas dari peranan ayah dan ibu.Dalam keluarga biasanya terdapat pembianaan Intelektual serta kepribadian dan sosial.

Adapun tujuan pendidikan keluarga adalah pengembangan diri si anak. Pengembangan diri ini dibutuhkan untuk menghadapi tugas-tugas dalam kehidupannya sebagai pribadi, sebagai siswa, karyawan, profesional, maupun sebagai warga masyarakat. Pola asuh ank juga berkaitan dengan sifat anak. Ada 2 macam pola asuh, yaitu :
  • Pola asuh otoriter. Orang tua menentukan aturan-aturan dan mengadakan pembatasan-pembatasan terhadap perilaku anak yang boleh dan tidak boleh dilaksanakannya. Anak harus tunduk dan patuh terhadap orang tuanya, anak tidak dapat mempunyai pilihan lain. Orang tua memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan anak, keinginan anak, keadaan khusus yang melekat pada individu anak yang berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain. Dalam hal pemilihan jurusan IPA atau IPS ini, apabila anak dengan pola asuh otoriter, biasanya akan memilih jurusan IPA dimana orang tua biasanya menganggap jurusan IPA lebih bagus masa depannya. Akhirnya anak akan melakukan perintah orang tua karena takut, bukan karena suatu kesadaran bahwa apa yang dikerjakan itu akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak. Tidak jarang pulak hal ini akan mempengaruhi keadaan belajar si anak dan sering membuat anak yang tidak mampu menjadi stress.
  • Pola asuh bebas. Subjek asuh bebas, berorientasi bahwa anak itu makhluk hidup yang berpribadi bebas. Anak adalah subiek yang dapat bertindak dan berbuat menurut hati nuraninya. Orang tua membiarkan anaknya mencari dan menemukan sendiri apa yang diperlukan untuk hidupnya. Anak telah terbiasa mengatur dan menentukan sendiri apa yang dianggap baik. Orang tua hanya bertindak sebagai polisi yang mengawasi permainan menegur dan mungkin memarahi. Dalam pemilihan jurusan tersebut para pelajar yang pola asuhnya bebas akan bebas memilih mana yang mereka sukai dan bukan karena paksaan. Dalam menjalaninya pun pastinya mereka akan sepenuh hati karena keinginan mereka selalu didukung orang tua mereka.

Teori Bimbingan Sekolah
Ditinjau dari teori bimbingan sekolah, peran guru bimbingan penting untuk menyelenggarakan pendidikan yang utuh. Peran mereka yaitu membantu peserta didik mengenali potensi dan mengembangkan kepribadiannya. Dalam pemilihan jurusan tersebut guru pembimbing harusnya bisa mengenali potensi siswa-siswinya dan memberikan bimbingan agar mereka tidak salah pilih. Biasanya dalam pemilihan jurusan IPA, murid yang nilainya tidak mencukupi tidak akan bisa memilih jurusan tersebut dan biasanya murid yang nilainya tidak mencukupi akan terlempar ke jurusan IPA. Adanya patokan nilai seperti inilah yang membuat banyak orang menganggap anak IPA harus pintar untuk bisa masuk jurusan IPA. Peran guru disini adalah mampu membantu siswa memilih jurusan yang cocok dan memberi semangat bagi siswa yang nilainya kurang. Dalam bimbingan sekolah ini, guru juga harus bisa menjadi fasilitator yang baik. Perlu ditekankan juga guru perlu memberikan pengertian terhadap orang tua mengenai pemilihan jurusan yang baik dimana kadangkala ada orang tua yang ngotot ingin anaknya masuk ke jurusan tertentu yang padahal anaknya tidak mampu atau tidak ingin.


Pembahasan Fenomena Ketiga (Arah pendidikan yang perlahan berubah):
Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Ditambah dengan adalnya teknologi yang canggih, membantu ilmu pengetahuan tersebar dengan cepat. Namun di sisi lain, pendidikan juga mengalami krisis yang memprihatinkan. Mengapa bisa demikian? Karena lembaga pendidikan yang tadinya bertujuan untuk membawa manusia keluar dari lingkaran kebodohan dan mengajari manusia tentang budi pekerti (pendidikan emansipatoris), kini telah berputar haluan ke arah materialisitis. Sekolah yang dibangun, yang fungsinya agar kita dapat menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan, berbudi pekerti luhur, telah berubah menjadi tempat untuk mempermudah manusia mendapat gelar, pekerjaan, jabatan tinggi bergaji besar, dan sebagainya. Fungsi pendidikan bukan lagi untuk mencapai emansipatoris, tetapi menciptakan generasi baru yang berorientasi duit dan menjadi robot-robot pekerja yang baik. Konsep pendidikan yang seperti ini akan menghambat mental kemanusiaan, spiritualitas, dan mentalitas-mentalitas generasi muda Indonesia. Akibatnya, muncul banyak orang-orang berinteligensi tinggi, tapi dengan tingkat moral yang rendah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya koruptor lihai dan licik di Indonesia ini. Mereka menggunakan kepintaran mereka untuk menipu, tapi rasa kemanusiaannya seperti telah lenyap dari dalam dirinya.

Teori Psikologi Pendidikan
Ditinjau dari sudut pandang psikologi, pendidikan juga bukan hanya sekedar masalah ilmu pengetahuan saja, tetapi termasuk juga pendidikan moral. Beberapa tokoh yang mengaji masalah ini yaitu Jean Piaget, Lawrence Kohlberg, dan lainnya. Kohlberg fokus pada pendidikan moral dan banyak meneliti tentang pengajaran moral. Pendekatan Kohlberg dalam pendidikan moral disebut pendekatan kognitif-developmental. Asumsi dasar dari pendekatan model tersebut adalah:
  1. pendidikan moral memerlukan gagasan filosofis tentang moralitas,
  2. perkembangan moral melalui tahap-tahap kualitatif, dan
  3. rangsangan terhadap perkembangan moral didasarkan pada rangsangan terhadap pemikiran dan pemecahan masalah (John de Santo, 1995: 65).

Melalui pendidikan moral ini, diharapkan pendidikan di Indonesia tidak berhenti hingga tahap pengetahuan saja, tetapi juga pengajaran tentang budi pekerti dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Teori Pendidikan Keluarga
Ditinjau dari teori pendidikan keluarga, sebagian besar keluarga juga sudah jarang memperhatikan masalah moral pada anak. ayah ibu kebanyakan sama-sama bekerja untuk menghadapi tuntutan zaman, shingga anak juga tidak begitu diperhatikan lagi. Apalagi untuk masyarakat ekonomi mengengah ke bawah, orang tuanya bahkan lebih ingin anaknya bekerja walupun belum cukup umur, daripada belajar di sekolah.

Teori Bimbingan Sekolah
Ditinjau dari teori bimbingan sekolah, John Dewey mengemukakan beberapa ide penting, yaitu:
  1. Anak dibimbing sebagai pembelajar aktif (active learner).
  2. Anak juga harus diajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia di luar sekolah.
  3. Semua anak berhak mendapat pendidikan selayaknya.

Fenomena pendidikan yang banyak terjadi di Indonesia yaitu banyaknya masyarakat yang masih belum mendapat pendidikan yang layak. Walaupun sudah ada dibangun sekolah gratis, namun masalah ini masih belum dapat diatasi sepenuhnya. Sebagian besar sekolah juga berorientasi untuk mengejar profit, sehingga melupakan tujuan utamanya yang seharusnya mencerdaskan seluruh anak bangsa.

Itulah pembahasan dari kami mengenai Fenomena-fenomena pendidikan yang ada. Sekian dan terimakasih.


Daftar Pustaka:
Kasus:
http://ndal.wordpress.com/2007/05/17/fenomena-pendidikan-mereka-ramai-ramai-ke-homeschooling/
http://www.cerita-ilmuku.co.cc/2011/01/fenomena-pendidikan-indonesia-2.html
http://zainurie.wordpress.com/2008/10/14/laskar-pelangi-dan-fenomena-pendidikan-kita/

Referensi Pembahasan:
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/alternative-medicine/1935058-untung-rugi-home-schooling-bagi/
http://www.masbow.com/2010/10/psikologi-pendidikan.html
http://blog.uny.ac.id/sudrajat/2010/07/30/values-clarification-dalam-pendidikan-moral/
http://linakura.multiply.com/journal/item/9
http://anakbanyumas.wordpress.com/2010/02/15/home-scholing-baik-buruk-alternatif-model-pendidikan-di-indonesia/
http://101301025s.blogspot.com/2011/01/apa-keuntungan-dan-kerugian.html

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tes Inteligensi Binet???

Bicara mengenai tes inteligensi, salah satu tes yang paling sering digunakan adalah tes intelegensi Binet. Lalu muncullah pertanyaan mengenai apa itu tes inteligensi Binet? Apa sejarahnya?? dan bagaimana bentuk tesnya serta bagaimana proses pengukurannya?? Pada posting kali ini, penulis akan membahas mengenai tes inteligensi Binet..Enjoy it!!


Tes inteligensi Binet ini muncul pada tahun 1904. Pada waktu itu, Menteri Pendidikan meminta psikolog Alfred Binet untuk menyusun suatu metode guna mengidentifikasi anak-anak yang tidak mampu belajar di sekolah. Para pejabat di sekolahan ingin mengurangi sekolah yang penuh sesak dengan cara memindahkan murid yang kurang mampu belajar di sekolah umum ke sekolah khusus. Atas dasar itulah, Binet dan mahasiswanya, Theophile Simon, menyusun suatu tes intelegensi yang kemudian dinamainya Tes inteligensi Binet. Tes ini kemudian disempurnakan oleh Lewis Terman dari Stanford University dan sekarang tes ini lebih dikenal dengan Stanford Binet Intelligence Scale.

Tes Binet ini terdiri dari sejumlah besar item (kira-kira 30 pertanyaan) yang berhubungan dengan efisiensi kognitif yang membedakan anak-anak dari umurnya (Verbal/Nonverbal). Dalam tes ini, anak yang jauh lebih tua umumnya akan menyelesaikan tes ini dengan nilai yang lebih bagus daripada anak yang lebih kecil. Pernyataan ini didasari oleh adanya asumsi bahwa kemampuan intelektual individu meningkat sejalan pertambahan umur pada masa anak-anak. Oleh karena itu, dalam tes Binet kita biasanya mengenal istilah Mental Age (MA), Chronological Age (CA), dan Intelligence Quotient (IQ).

Mental Age adalah usia mental, yakni level perkembangan individu yang berkaitan dengan perkembangan lain. Chronological Age adalah usia kronologis (umur nyata individu). IQ adalah nilai numerik dari inteligensi yang didapatkan dari tes inteligensi. IQ bisa didapatkan ketika kita membagikan Mental age dengan Chronological Age dikali dengan 100. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat rumus berikut:
IQ = MA/CA x 100

Dengan menggunakan rumus tersebut kita telah dapat mengetahui berapa nilai IQ seseorang.
Contoh: Ada anak mempunyai MA= 10 tahun dan CA= 8 tahun. Maka IQnya adalah 
IQ= 10/8 x 100 = 125

Perlu diingat juga bahwa setelah melakukan beberapa penelitian, tes Stanfrod Binet ini disimpulkan mendekati distribusi normal. Distribusi normal ini artinya simetris, dengan mayoritas skor berada pada tengah-tengah rentang skor yang mungkin muncul dan hanya ada sedikit skor yang berada mendekati ujung dari rentang itu (sering juga disebut nilai ekstrem).

Sekian dulu pembahasan pada posting ini. Semoga hasil postingan ini dapat bermanfaat buat pembaca sekalian. Thanks for your attention.. ^^

Referensi:
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (Edisi Kedua). Jakarta: Prenada Media Group
Lahey, B.B. (2007). Psychology an introduction (Ninth Edition). New York: McGraw Hill

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kesan terhadap kuliah tanggal 8 Maret 2011 dihubungkan dengan kognisi dan Motivasi

Bagaimanakah perasaan Anda ketika kepribadian Anda dinilai secara langsung oleh teman-teman sekelompok Anda?? Deg-degan?? Biasa saja?? Ato gimana? Haha.. Hal inilah yang kami lakukan ketika menjalani kuliah mata kuliah Psikologi Pendidikan tanggal 8 Maret 2011. Komentar saya terhadap kuliah kali ini benar-benar sangat menegangkan dan menyenangkan. Bagaimana tidak? Kepribadian kita langsung dinilai dan saya sendiri yang harus mengevaluasinya. Hal ini membuatku semakin mengenali diri saya sendiri.

Menurut saya, proses kognitif yang bekerja pda saya ketika proses penilaian dan evaluasi ini sesuai dengan teori Piaget. Dalam teori ini dijelaskan beberapa hal penting, yaitu:

  • Adanya konsep yang dikenal dengan skema dimana kita menggunakan konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran kita yang kemudian akan dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Dalam kasus ini, saya telah mendapatkan informasi-informasi dari perilaku teman-teman sekelompok saya sebelumnya. Lalu agar saya bisa menyampaikan beberapa ciri umum teman saya, tentu saja saya harus mengorganisasikan informasi-informasi tersebut sehingga saya baru bisa menarik kesimpulan mengenai diri mereka dan mengemukakan penilaianku mengenai mereka.
  • Dalam teori Piaget ini dikenal juga proses asimilasi dan akomodasi. Proses ini terjadi pada saat saya mengevaluasi hasil penilaian teman-temanku mengenai diriku. Proses asimilasi ini terjadi ketika saya memasukkan informasi-informasi baru mengenai penilaian teman-temanku ke dalam pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, yaitu bagaimana pendapatku mengenai diriku sendiri. Akomodasi terjadi ketika saya menyesuaikan diri saya terhadap informasi-informasi tersebut. Dalam hal ini, berarti saya harus mau menerima penilaian dari mereka dan mengevaluasinya dari dalam diri sendiri sehingga terjadi penyesuaian yang baik antara diriku dengan lingkungan.


Kegiatan-kegiatan seperti ini juga ada kaitannya dengan motivasi kami. Dalam kegiatan kali ini, saya berpendapat bahwa terdapat 2 jenis motivasi yang mendasariku untuk melakukan kegiatan menilai dan dinilai ini, yaitu:

  1. Motivasi Ekstrinsik (melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain), yaitu saya melakukan kegiatan ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah psikologi pendidikan. Akan tetapi menurut saya, motivasi ekstrinsik ini hanya memotivasiku sekitar 15% saja.
  2. Motivasi Intrinsik (melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri), yaitu saya termotivasi melakukan kegiatan ini karena saya sendiri memang sangant penasaran dengan penilaian orang lain terhadap diriku. Oleh karena itu, motivasi intrinsik ini memotivasiku sekitar 85%.

Mungkin bila dikaitkan dengan teori motivasi, salah satu teori yang sesuai dengan saya adalah teori atribusi. Teori ini menyatakan bahwa dalam usaha memahami perilaku atau kinerjanya sendiri, orang-orang termotivasi untuk menemukan sebab-sebab yang mendasarinya. Dalam kasus ini, saya telah mendapatkan sendiri gambaran-gambaran mengenai diri saya sebelumnya. Tapi saya masih ingin mengetahui lebih jelas dan ingin mengetahui kenapa saya bisa seperti itu. Oleh karena itu, saya merasa termotivasi untuk melakukan kegiatan seperti ini karena akan bisa membuatku semakin mengenal diri sendiri dengan adanya komentar-komentar dan feedback-feedback dari teman sekelompok. Dan mungkin saja mereka-mereka yang calon psikolog ini juga bisa memberitahukan sekilas mengapa saya bisa seperti itu.. Who knows?? Haha.

Intinya adalah kegiatan kuliah kali ini sangat seru dan sangat memperkaya wawasan kami semua baik mengenai diri sendiri maupun orang lain. Thank you for your attention.. ^^

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teacher!!

MY TEACHER



When I entered to the school
I didn’t know anyone
The only one that I knew
was you.. my teacher

When I’ve already had some friends
And maybe some best friends too
The only one that’ve never forgotten me
Is you.. my teacher

When I got a trouble
And even my friends couldn’t help me
The only one that tried hard to help me
Was you.. my teacher



   
When I was on the wrong path
And made some mistakes
The only one that gave me advices
Was you.. my teacher

And now.. I’m not in the school anymore
I can’t see you everyday…
I can’t talk to you everyday…
But, I can remember you everyday

I probably can’t see you physically
But.. I can see you in my memory
The memory that full of your advices and kindness
Which will never go away from my mind and my heart

Thank you my teacher…


Kedua karya diatas, yaitu yang disebelah kiri yang merupakan hasil editan foto guru Biologiku ketika masih di SMA dan puisi disebelah kanan, merupakan bentuk apresiasiku kepada Beliau yang telah banyak membantuku semasa SMA. Untuk bagian puisi saya mungkin tidak akan membahasnya terlalu banyak. Akan tetapi, saya akan membahas mengenai foto editan tersebut. Seperti yang dapat dilihat pada foto di atas, foto yang berada paling tinggi merupakan foto asli Beliau. Sedangkan foto yang dibawahnya merupakan hasil editanku sendiri. Apakah Anda tahu saya mengeditnya seperti apa? Sebenarnya cukup simpel tapi memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. Saya menggabungkan foto-fotoku dengan  teman-teman semasa SMA, baik ketika berada di sekolah maupun di tempat-tempat umum lainnya sehingga membentuk pola seperti foto aslinya. Hasil editan ini bila dilihat sekilas dari jarak yang cukup jauh, maka akan terlihat seperti foto asli Beliau. Tetapi bila dilihat dari dekat, akan terlihat kumpulan foto-foto kecil saya dan teman-temanku. Menakjubkan bukan?? Tentu saja ini diedit dengan menggunakan photoshop. Berikut di bawah ini saya akan menyertakan beberapa foto mengenai hasil editan tersebut yang telah saya zoom..



Terlihat perbedaannya bukan?? Itu merupakan hasil yang akan kita lihat bila kita semua melihatnya dengan jarak yang jauh lebih dekat dari sebelumnya. 

Tujuan utama pembuatan karya-karya tersebut adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah psikologi pendidikan. Akan tetapi, saya mempunyai alasan kenapa saya memilih untuk membuat karya seperti ini, yaitu karena saya ingin bisa mengenang semua teman-temanku semasa SMA hanya dalam 1 foto dan juga karena saya ingin mempersembahkan suatu bentuk apresiasi kepada Beliau yang telah banyak membantu saya di bangku sekolah. Beliau telah membantu saya dalam meraih beberapa prestasi di luar sekolah. Salah satunya yang paling membuat saya bangga adalah ketika saya mendapat juara 3 OSN Biologi tingkat kota Medan. Tanpa bimbingannya, saya mungkin tidak akan pernah bisa meraih prestasi setinggi itu. Apakah Anda juga merasakan bahwa guru-guru Anda telah banyak membantu Anda? Saya rasa jawabannya pasti iya. Menurut saya, ada 1 kalimat yang paling mencerminkan guru-guru kita semua. Yaitu:
"They are those extraordinary who always tell us to be a good person without expectation of any reward and they have never taught us to be a bad person."

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perkembangan bahasa pada masa kanak-kanak????

Pada posting kali ini, penulis akan menjelaskan bagaimanakah perkembangan bahasa pada masa kanak-kanak?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan menguraikan terlebih dahulu apa pengertian dari bahasa dan apa saja struktur-strukturnya? Dan kemudian akan dilanjutkan dengan uraian mengenai perkembangan bahasa pada masa kanak-kanak. Enjoy it..



Bahasa adalah bentuk komunikasi, baik itu lisan, tulisan ataupun tanda yang didasarkan pada sistem simbol. Dalam bahasa dikenal 5 macam istilah, yaitu:
  • Fonologi, yaitu sistem suara bahasa.
  • Morfologi, yaitu aturan untuk mengkombinasikan morfem, yang merupakan satuan bentuk terkecil dalam sebuah bahasa yang masih memiliki arti dan tidak bisa dibagi menjadi satuan yang lebih kecil lagi.
  • Sintaksis, yaitu cara kata dikombinasikan untuk membentuk frasa dan kalimat yang bisa diterima.
  • Semantik, yaitu makna dari kata atau kalimat.
  • Pragmatis, yaitu penggunaan percakapan yang tepat.

Perkembangan bahasa melalui beberapa tahap. Pada usia 3-6 bulan bayi sudah mulai mengoceh. Bayi mengucapkan kata pertamanya pada usia 10-13 bulan. Pada saat ini bayi tampak pasif menerima stimulus eksternal yang diberikan oleh orang tuanya, tetapi bayi mampu memberikan respon yang berbeda-beda terhadap stimulus tersebut, seperti bayi akan tersenyum pada orang yang dianggapnya ramah dan sebaliknya.

Pada usia 24 bulan, bayi biasanya sudah mulai memadukan 2 kata. Tahap ini sendiri terbagi tiga, yaitu tahap dimana anak mengucapkan kalimat 1 kata (misalnya cuma “ibu” yang bisa berarti apa saja), tahap dimana anak mengucapkan kalimat dengan 2 kata (misalnya “kakak jatuh” yang masih belum terlalu jelas makna aslinya), dan tahap dimana anak mengucapkan lebih dari tiga kata(misalnya “saya makan nasi”). Tahap-tahap ini akan terjadi pada usia 1-2 setengah tahun.

Pada usia 2 setengah-5 tahun, anak sudah mampu menguasai bahasa sesuai dengan aturan tata bahasa yang baik dan sempurna yaitu kalimatnya terdiri dari subyek, predikat dan obyek. Pembendaharaan katanya pun sudah berkembang, baik dalam segi kuantitas ataupun kualitas. Menginjak usia 3 tahun, anak-anak mulai menguasai karakteristik bahasa yang disebut “displacement” yang berarti bahwa anak tidak hanya hal-hal yang ada di sini atau saat ini, tetapi juga telah mampu berbicara tentang hal-hal yang secara fisik tidak ada disini dan sesuatu yang terjadi di masa lalu, atau mungkin terjadi di masa depan.

Kosakata anak usia 6 tahun berkisar antara 8.000 sampai 14.000 kata. Berdasarkan asumsi bahwa kata pertama dipelajari sejak usia 12 bulan, maka ini berarti anak menguasai 5 sampai 8 kata baru setiap harinya antara usia 1-6 tahun. Akan tetapi, setelah 5 tahun belajar kata, penyerapan kata anak usia 6 tahun tidak melambat tapi justrulebih cepat. Dan bahkan menurut beberapa perkiraan, rata-rata anak pada usia ini menguasai sekitar 22 kata baru setiap hari.

Perbedaan yang paling dasar antara bahasa anak usia 2 tahun dengan anak usia 6 tahun terletak pada aspek pragmatisnya. Anak umur 6 tahun tentu saja jauh lebih lancar dalam berbicara ketimbang anak usia 2 tahun. Selama masa kanak-kanak periode menengah dan akhir (middle and late childhood = 7-11 tahun) terjadi perubahan cara anak berpikir tentang kata. Mereka menjadi tidak terlalu terikat dengan perbuatan dan dimensi perseptual yang berhubungan dengan kata, serta mereka menjadi semakin analitis dalam memahami kata.

Sekian pembahasan penulis mengenai perkembangan bahasa pada masa kanak-kanak. Thank you for your attention and your participation.. ^^

Referensi:
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (Edisi Kedua). Jakarta: Prenada Media Group

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Google Talk