Steven. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

What do you think about my blog?

Tes Inteligensi Binet???

Bicara mengenai tes inteligensi, salah satu tes yang paling sering digunakan adalah tes intelegensi Binet. Lalu muncullah pertanyaan mengenai apa itu tes inteligensi Binet? Apa sejarahnya?? dan bagaimana bentuk tesnya serta bagaimana proses pengukurannya?? Pada posting kali ini, penulis akan membahas mengenai tes inteligensi Binet..Enjoy it!!


Tes inteligensi Binet ini muncul pada tahun 1904. Pada waktu itu, Menteri Pendidikan meminta psikolog Alfred Binet untuk menyusun suatu metode guna mengidentifikasi anak-anak yang tidak mampu belajar di sekolah. Para pejabat di sekolahan ingin mengurangi sekolah yang penuh sesak dengan cara memindahkan murid yang kurang mampu belajar di sekolah umum ke sekolah khusus. Atas dasar itulah, Binet dan mahasiswanya, Theophile Simon, menyusun suatu tes intelegensi yang kemudian dinamainya Tes inteligensi Binet. Tes ini kemudian disempurnakan oleh Lewis Terman dari Stanford University dan sekarang tes ini lebih dikenal dengan Stanford Binet Intelligence Scale.

Tes Binet ini terdiri dari sejumlah besar item (kira-kira 30 pertanyaan) yang berhubungan dengan efisiensi kognitif yang membedakan anak-anak dari umurnya (Verbal/Nonverbal). Dalam tes ini, anak yang jauh lebih tua umumnya akan menyelesaikan tes ini dengan nilai yang lebih bagus daripada anak yang lebih kecil. Pernyataan ini didasari oleh adanya asumsi bahwa kemampuan intelektual individu meningkat sejalan pertambahan umur pada masa anak-anak. Oleh karena itu, dalam tes Binet kita biasanya mengenal istilah Mental Age (MA), Chronological Age (CA), dan Intelligence Quotient (IQ).

Mental Age adalah usia mental, yakni level perkembangan individu yang berkaitan dengan perkembangan lain. Chronological Age adalah usia kronologis (umur nyata individu). IQ adalah nilai numerik dari inteligensi yang didapatkan dari tes inteligensi. IQ bisa didapatkan ketika kita membagikan Mental age dengan Chronological Age dikali dengan 100. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat rumus berikut:
IQ = MA/CA x 100

Dengan menggunakan rumus tersebut kita telah dapat mengetahui berapa nilai IQ seseorang.
Contoh: Ada anak mempunyai MA= 10 tahun dan CA= 8 tahun. Maka IQnya adalah 
IQ= 10/8 x 100 = 125

Perlu diingat juga bahwa setelah melakukan beberapa penelitian, tes Stanfrod Binet ini disimpulkan mendekati distribusi normal. Distribusi normal ini artinya simetris, dengan mayoritas skor berada pada tengah-tengah rentang skor yang mungkin muncul dan hanya ada sedikit skor yang berada mendekati ujung dari rentang itu (sering juga disebut nilai ekstrem).

Sekian dulu pembahasan pada posting ini. Semoga hasil postingan ini dapat bermanfaat buat pembaca sekalian. Thanks for your attention.. ^^

Referensi:
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (Edisi Kedua). Jakarta: Prenada Media Group
Lahey, B.B. (2007). Psychology an introduction (Ninth Edition). New York: McGraw Hill

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kesan terhadap kuliah tanggal 8 Maret 2011 dihubungkan dengan kognisi dan Motivasi

Bagaimanakah perasaan Anda ketika kepribadian Anda dinilai secara langsung oleh teman-teman sekelompok Anda?? Deg-degan?? Biasa saja?? Ato gimana? Haha.. Hal inilah yang kami lakukan ketika menjalani kuliah mata kuliah Psikologi Pendidikan tanggal 8 Maret 2011. Komentar saya terhadap kuliah kali ini benar-benar sangat menegangkan dan menyenangkan. Bagaimana tidak? Kepribadian kita langsung dinilai dan saya sendiri yang harus mengevaluasinya. Hal ini membuatku semakin mengenali diri saya sendiri.

Menurut saya, proses kognitif yang bekerja pda saya ketika proses penilaian dan evaluasi ini sesuai dengan teori Piaget. Dalam teori ini dijelaskan beberapa hal penting, yaitu:

  • Adanya konsep yang dikenal dengan skema dimana kita menggunakan konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran kita yang kemudian akan dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Dalam kasus ini, saya telah mendapatkan informasi-informasi dari perilaku teman-teman sekelompok saya sebelumnya. Lalu agar saya bisa menyampaikan beberapa ciri umum teman saya, tentu saja saya harus mengorganisasikan informasi-informasi tersebut sehingga saya baru bisa menarik kesimpulan mengenai diri mereka dan mengemukakan penilaianku mengenai mereka.
  • Dalam teori Piaget ini dikenal juga proses asimilasi dan akomodasi. Proses ini terjadi pada saat saya mengevaluasi hasil penilaian teman-temanku mengenai diriku. Proses asimilasi ini terjadi ketika saya memasukkan informasi-informasi baru mengenai penilaian teman-temanku ke dalam pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, yaitu bagaimana pendapatku mengenai diriku sendiri. Akomodasi terjadi ketika saya menyesuaikan diri saya terhadap informasi-informasi tersebut. Dalam hal ini, berarti saya harus mau menerima penilaian dari mereka dan mengevaluasinya dari dalam diri sendiri sehingga terjadi penyesuaian yang baik antara diriku dengan lingkungan.


Kegiatan-kegiatan seperti ini juga ada kaitannya dengan motivasi kami. Dalam kegiatan kali ini, saya berpendapat bahwa terdapat 2 jenis motivasi yang mendasariku untuk melakukan kegiatan menilai dan dinilai ini, yaitu:

  1. Motivasi Ekstrinsik (melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain), yaitu saya melakukan kegiatan ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah psikologi pendidikan. Akan tetapi menurut saya, motivasi ekstrinsik ini hanya memotivasiku sekitar 15% saja.
  2. Motivasi Intrinsik (melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri), yaitu saya termotivasi melakukan kegiatan ini karena saya sendiri memang sangant penasaran dengan penilaian orang lain terhadap diriku. Oleh karena itu, motivasi intrinsik ini memotivasiku sekitar 85%.

Mungkin bila dikaitkan dengan teori motivasi, salah satu teori yang sesuai dengan saya adalah teori atribusi. Teori ini menyatakan bahwa dalam usaha memahami perilaku atau kinerjanya sendiri, orang-orang termotivasi untuk menemukan sebab-sebab yang mendasarinya. Dalam kasus ini, saya telah mendapatkan sendiri gambaran-gambaran mengenai diri saya sebelumnya. Tapi saya masih ingin mengetahui lebih jelas dan ingin mengetahui kenapa saya bisa seperti itu. Oleh karena itu, saya merasa termotivasi untuk melakukan kegiatan seperti ini karena akan bisa membuatku semakin mengenal diri sendiri dengan adanya komentar-komentar dan feedback-feedback dari teman sekelompok. Dan mungkin saja mereka-mereka yang calon psikolog ini juga bisa memberitahukan sekilas mengapa saya bisa seperti itu.. Who knows?? Haha.

Intinya adalah kegiatan kuliah kali ini sangat seru dan sangat memperkaya wawasan kami semua baik mengenai diri sendiri maupun orang lain. Thank you for your attention.. ^^

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teacher!!

MY TEACHER



When I entered to the school
I didn’t know anyone
The only one that I knew
was you.. my teacher

When I’ve already had some friends
And maybe some best friends too
The only one that’ve never forgotten me
Is you.. my teacher

When I got a trouble
And even my friends couldn’t help me
The only one that tried hard to help me
Was you.. my teacher



   
When I was on the wrong path
And made some mistakes
The only one that gave me advices
Was you.. my teacher

And now.. I’m not in the school anymore
I can’t see you everyday…
I can’t talk to you everyday…
But, I can remember you everyday

I probably can’t see you physically
But.. I can see you in my memory
The memory that full of your advices and kindness
Which will never go away from my mind and my heart

Thank you my teacher…


Kedua karya diatas, yaitu yang disebelah kiri yang merupakan hasil editan foto guru Biologiku ketika masih di SMA dan puisi disebelah kanan, merupakan bentuk apresiasiku kepada Beliau yang telah banyak membantuku semasa SMA. Untuk bagian puisi saya mungkin tidak akan membahasnya terlalu banyak. Akan tetapi, saya akan membahas mengenai foto editan tersebut. Seperti yang dapat dilihat pada foto di atas, foto yang berada paling tinggi merupakan foto asli Beliau. Sedangkan foto yang dibawahnya merupakan hasil editanku sendiri. Apakah Anda tahu saya mengeditnya seperti apa? Sebenarnya cukup simpel tapi memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. Saya menggabungkan foto-fotoku dengan  teman-teman semasa SMA, baik ketika berada di sekolah maupun di tempat-tempat umum lainnya sehingga membentuk pola seperti foto aslinya. Hasil editan ini bila dilihat sekilas dari jarak yang cukup jauh, maka akan terlihat seperti foto asli Beliau. Tetapi bila dilihat dari dekat, akan terlihat kumpulan foto-foto kecil saya dan teman-temanku. Menakjubkan bukan?? Tentu saja ini diedit dengan menggunakan photoshop. Berikut di bawah ini saya akan menyertakan beberapa foto mengenai hasil editan tersebut yang telah saya zoom..



Terlihat perbedaannya bukan?? Itu merupakan hasil yang akan kita lihat bila kita semua melihatnya dengan jarak yang jauh lebih dekat dari sebelumnya. 

Tujuan utama pembuatan karya-karya tersebut adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah psikologi pendidikan. Akan tetapi, saya mempunyai alasan kenapa saya memilih untuk membuat karya seperti ini, yaitu karena saya ingin bisa mengenang semua teman-temanku semasa SMA hanya dalam 1 foto dan juga karena saya ingin mempersembahkan suatu bentuk apresiasi kepada Beliau yang telah banyak membantu saya di bangku sekolah. Beliau telah membantu saya dalam meraih beberapa prestasi di luar sekolah. Salah satunya yang paling membuat saya bangga adalah ketika saya mendapat juara 3 OSN Biologi tingkat kota Medan. Tanpa bimbingannya, saya mungkin tidak akan pernah bisa meraih prestasi setinggi itu. Apakah Anda juga merasakan bahwa guru-guru Anda telah banyak membantu Anda? Saya rasa jawabannya pasti iya. Menurut saya, ada 1 kalimat yang paling mencerminkan guru-guru kita semua. Yaitu:
"They are those extraordinary who always tell us to be a good person without expectation of any reward and they have never taught us to be a bad person."

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perkembangan bahasa pada masa kanak-kanak????

Pada posting kali ini, penulis akan menjelaskan bagaimanakah perkembangan bahasa pada masa kanak-kanak?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan menguraikan terlebih dahulu apa pengertian dari bahasa dan apa saja struktur-strukturnya? Dan kemudian akan dilanjutkan dengan uraian mengenai perkembangan bahasa pada masa kanak-kanak. Enjoy it..



Bahasa adalah bentuk komunikasi, baik itu lisan, tulisan ataupun tanda yang didasarkan pada sistem simbol. Dalam bahasa dikenal 5 macam istilah, yaitu:
  • Fonologi, yaitu sistem suara bahasa.
  • Morfologi, yaitu aturan untuk mengkombinasikan morfem, yang merupakan satuan bentuk terkecil dalam sebuah bahasa yang masih memiliki arti dan tidak bisa dibagi menjadi satuan yang lebih kecil lagi.
  • Sintaksis, yaitu cara kata dikombinasikan untuk membentuk frasa dan kalimat yang bisa diterima.
  • Semantik, yaitu makna dari kata atau kalimat.
  • Pragmatis, yaitu penggunaan percakapan yang tepat.

Perkembangan bahasa melalui beberapa tahap. Pada usia 3-6 bulan bayi sudah mulai mengoceh. Bayi mengucapkan kata pertamanya pada usia 10-13 bulan. Pada saat ini bayi tampak pasif menerima stimulus eksternal yang diberikan oleh orang tuanya, tetapi bayi mampu memberikan respon yang berbeda-beda terhadap stimulus tersebut, seperti bayi akan tersenyum pada orang yang dianggapnya ramah dan sebaliknya.

Pada usia 24 bulan, bayi biasanya sudah mulai memadukan 2 kata. Tahap ini sendiri terbagi tiga, yaitu tahap dimana anak mengucapkan kalimat 1 kata (misalnya cuma “ibu” yang bisa berarti apa saja), tahap dimana anak mengucapkan kalimat dengan 2 kata (misalnya “kakak jatuh” yang masih belum terlalu jelas makna aslinya), dan tahap dimana anak mengucapkan lebih dari tiga kata(misalnya “saya makan nasi”). Tahap-tahap ini akan terjadi pada usia 1-2 setengah tahun.

Pada usia 2 setengah-5 tahun, anak sudah mampu menguasai bahasa sesuai dengan aturan tata bahasa yang baik dan sempurna yaitu kalimatnya terdiri dari subyek, predikat dan obyek. Pembendaharaan katanya pun sudah berkembang, baik dalam segi kuantitas ataupun kualitas. Menginjak usia 3 tahun, anak-anak mulai menguasai karakteristik bahasa yang disebut “displacement” yang berarti bahwa anak tidak hanya hal-hal yang ada di sini atau saat ini, tetapi juga telah mampu berbicara tentang hal-hal yang secara fisik tidak ada disini dan sesuatu yang terjadi di masa lalu, atau mungkin terjadi di masa depan.

Kosakata anak usia 6 tahun berkisar antara 8.000 sampai 14.000 kata. Berdasarkan asumsi bahwa kata pertama dipelajari sejak usia 12 bulan, maka ini berarti anak menguasai 5 sampai 8 kata baru setiap harinya antara usia 1-6 tahun. Akan tetapi, setelah 5 tahun belajar kata, penyerapan kata anak usia 6 tahun tidak melambat tapi justrulebih cepat. Dan bahkan menurut beberapa perkiraan, rata-rata anak pada usia ini menguasai sekitar 22 kata baru setiap hari.

Perbedaan yang paling dasar antara bahasa anak usia 2 tahun dengan anak usia 6 tahun terletak pada aspek pragmatisnya. Anak umur 6 tahun tentu saja jauh lebih lancar dalam berbicara ketimbang anak usia 2 tahun. Selama masa kanak-kanak periode menengah dan akhir (middle and late childhood = 7-11 tahun) terjadi perubahan cara anak berpikir tentang kata. Mereka menjadi tidak terlalu terikat dengan perbuatan dan dimensi perseptual yang berhubungan dengan kata, serta mereka menjadi semakin analitis dalam memahami kata.

Sekian pembahasan penulis mengenai perkembangan bahasa pada masa kanak-kanak. Thank you for your attention and your participation.. ^^

Referensi:
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (Edisi Kedua). Jakarta: Prenada Media Group

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Apa itu e-learning???

Mungkin bagi beberapa e-learning terdengar familiar oleh mereka. Tapi ternyata masih banyak orang-orang yang tidak mengetahui apa itu e-learning. Berikut penulis akan menjelaskan sedikit mengenai apa itu e-learning? Beserta apa keuntungan dan kelemahannya?


E-learning adalah suatu bentuk pembelajaran dengan menggunakan media atau jasa bantuan perangkat elektronika. Dalam pelaksanaannya, biasanya e-learning menggunakan jasa audio, video, perangkat computer, atau kombinasi dari ketiganya. E-learning merupakan sebuah proses pembelajaran yang dilakukan melalui network (jaringan). Ini berarti dengan e-learning memungkinkan tersampainya bahan ajar kepada peserta didik menggunakan media teknologi informasi dan komunikasi berupa komputer dan jaringan internet atau intranet. Dengan e-learning, belajar bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, melalui jalur mana saja dan dengan kecepatan akses apapun sehingga proses pembelajaran bisa lebih efektif dan efisien.

Adapun keuntungan-keuntungan dari e-learning adalah sebagai berikut:
  1. Menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan, seperti infrastruktur, buku-buku, biaya perjalanan peserta didik dan pendidik ke tempat kuliah dan lain sebagainya.
  2. Pembelajaran secara e-learning membuat perhatian dalam pembelajaran tertuju pada peserta didik. Hal ini karena peserta didik belajar diharuskan untuk bersikap mandiri dalam menggali (mengeksplorasi) ilmu pengetahuan dan media teknologi informasi lainnya yang selanjutnya akan didiskusikan dengan peserta didik yang lain dan diawasi oleh e-instructor. Hal ini akan meningkatkan kemandirian peserta didik.
  3. Fleksibel karena siswa dapat belajar kapan saja, di mana saja, dan dengan tipe pembelajaran yang berbeda-beda.
  4. Memberikan pengalaman yang menarik dan bermakna bagi peserta didik karena kemampuannya dapat berinteraksi langsung, sehingga pemahaman terhadap materi pembelajaran akan lebih bermakna.
  5. Dapat memperbaiki tingkat pemahaman dan daya ingat seseorang terhadap suatu materi karena langsung diberikan feedback oleh e-instructor atau e-learner lain.
  6. Adanya kerja sama dalam komunitas online sehingga memudahkan berlangsungnya proses transfer informasi dan komunikasi.

E-learning juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain:
  1. Karena e-learning menggunakan teknologi informasi, tidak semua orang terutama orang yang masih awam dapat menggunakannya dengan baik.
  2. E-learning membutuhkan infrastruktur yang baik dan persiapan serta perencanaan program yang lengkap dengan semua perangkatnya sehingga membutuhkan biaya awal yang cukup tinggi dan waktu yang agak lama.
  3. Karena e-learning menuntut para peserta didik belajar mandiri, maka peserta didik diharuskan memiliki motivasi belajar yang tinggi.
  4. Tidak semua orang mau menggunakan e-learning sebagai media belajar.
Sekian pembahasan mengenai e-learning. Keep in Touch... ^^

Referensi:
Munir. (2008). Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung: Alfabeta

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Macam-macam gaya belajar??!!??

Sebagaimana kita tahu, gaya belajar pada tiap individu berbeda. Perbedaan ini tergantung pada teori belajar mana yang lebih disukai. Perbedaan ini didasari oleh faktor kognitif atau pengetahuan individu, afektif atau sikap, dan lingkungan belajar.

Nah.. Kali ini saya akan membahas mengenai beberapa gaya belajar yang sering kita temukan dalam kehidupan kita ini. Enjoy it!!


Gaya belajar adalah karakteristik atau cara yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan atau memproses informasi atau pengetahuan dalam suatu proses pembelajaran. Dengan mengetahui bagaimana gaya belajar yang sesuai untuk seseorang, pengajar akan lebih mudah dalam menjelaskan suatu materi sesuai dengan gaya belajar peserta didik tersebut sehingga peserta didik akan lebih cepat mengerti dan tidak membuang-buang waktu. Beberapa macam gaya-gaya belajar antara lain:
  1. Gaya belajar Visual : Gaya belajar seperti ini lebih dominan dalam memanfaatkan indera penglihatan (mata) mereka dengan cara melihat seperti melihat gambar, poster, grafik, diagram, dan sebagainya. Orang dengan gaya belajar seperti ini umumnya suka membaca dan lebih mudah mengingat apa yang dibaca daripada didengar.
  2. Gaya belajar Auditori : Gaya belajar ini dominan dalam memanfaatkan indera pendengaran (telinga) mereka dengan cara mendengar seperti mendengar radio, berdialog dan berdiskusi. Orang dengan gaya ini umumnya lebih suka mendengar candaan-candaan lucu daripada membaca komik dan biasanya sangat mudah terganggu oleh keributan. Orang ini dapat mendengar dengan jelas materi pembelajaran yang disampaikan.
  3. Gaya belajar Kinestetik : Gaya belajar ini adalah gaya belajar yang dilakukan seseorang untuk memperoleh informasi dengan dominan melakukan gerakan, praktek, atatu pengalaman belajar secara langsung. Orang dengan gaya belajar seperti ini umumnya dalam menyampaikan pendapat biasanya akan disertai dengan gerakan tangan atau bahasa tubuh yang melibatkan anggota tubuh lainnya.
  4. Gaya belajar Taktual (Tactile) : Orang dengan gaya belajar seperti ini biasanya belajar melalui sentuhan atau rabaan anggota tubuh. Orang dengan gaya ini pada umumnya menyukai menggunakan perasaan sentuhan mereka. Berkomunikasi dilakukan dengan cara menyentuh dan lebih menghargai motivasi yang diekspresikan secara fisik, seperti tepukan di bahu.

Itulah macam-macam gaya belajar yang sering kita temui. Semoga posting ini dapat memberikan tambahan informasi bagi para readers. Thx for the attention!!

Daftar pustaka:
Munir. (2008). Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta
http://www.indoforum.org/showthread.php?t=90709

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Testimoni Upin & Ipin : Geng petualangan bermula

Kali ini saya akan memberikan testimoni terhadap film Upin & Ipin: Geng petualangan bermula yang ditayangkan oleh dosen Psikologi Pendidikan pada tanggal 16 Februari 2011.

Sebenarnya film ini sudah saya tonton sebelumnya di televisi. Akan tetapi, ketika saya tahu bahwa saya harus menontonnya lagi saya tidak menolaknya karena film itu sangat menarik. Film yang proses pengerjaannya ini memerlukan waktu 2 setengah tahun benar-benar film yang sangat menyenangkan dan sangat menghibur. Film ini bercerita tentang binatang yang berasal dari dunia lain yang kemudian secara tidak sengaja masuk ke dalam dunia manusia dan akhirnya mereka harus dikejar oleh sekelompok penjahat. Secara tidak sengaja, salah satu binatang tersebut bertemu dengan Upin & Ipin serta kawan-kawannya yang akan menolong binatang ini bebas dari kejaran penjahat. Cerita yang cukup menarik bukan?

Didalam film ini, banyak terdapat scene-scene yang sangat lucu sehingga bisa membuat penontonnya tertawa terbahak-bahak. Film ini juga bisa ditonton oleh semua orang tanpa adanya batas umur. Selain lucu, film ini juga adalah film yang sangat mendidik bagi semua orang. Mengapa?? Karena didalamnya terdapat unsur-unsur pembelajaran yang sangat kuat. Diantaranya adalah unsur yang mengajarkan kita untuk selalu bekerja sama dengan orang lain, menolong orang-orang yang sedang kesusahan, menyayangi sesama dan lain sebagainya. Terdapat beberapa scene dimana kerja sama yang dipraktekkan oleh karakter-karakter sangat kuat sampai-sampai bisa membuatku terkesima, yaitu dimana mereka saling membantu ketika dikejar oleh penjahat dan ular raksasa. Singkat kata, film ini benar-benar pantas untuk ditonton dan saya bisa menjamin Anda pasti tidak akan menyesal setelah menontonnya.

Dalam film tersebut, kita bisa melihat bagaimana film yang ditayangkan melalui televisi dapat menjadi sumber pembelajaran bagi diri kita. Dengan kata lain, televisi/film tersebut telah menjadi media pembelajaran bagi semua orang. Zaman sekarang, media pembelajaran sudah sangat berkembang dan selalu ada kaitannya dengan perkembangan teknologi di dunia kita ini. Dengan adanya media pembelajaran seperti film tersebut, tentu saja kita (khususnya anak-anak) akan mendapatkan suatu bentuk pembelajaran yang akan sangat berguna dalam konteks kehidupan secara tidak langsung. Apakah anak-anak hanya bisa belajar dari gurunya?? Tentu saja tidak. Anak-anak memang harusnya bisa belajar dari segala media pembelajaran dan bisa memanfaatkan media pembelajaran tersebut sebaik mungkin. Salah satunya adalah melalui film ini. Selain anak bisa merasa terhibur ketika menonton film ini, mereka juga bisa mendapatkan pembelajaran secara tidak langsung. Mereka dapat menerapkan perilaku kerja sama seperti yang dipraktekkan oleh karakter-karakternya dan lain sebagainya. Dengan kata lain, anak bisa belajar dari film ini yang pada umumnya merupakan film favorit bagi anak-anak karena film ini sangat lucu dan gambar karakter kartunnya cukup bagus. Bukankah dengan begitu, anak akan lebih cepat belajar?? Jika jawabannya iya, maka Anda sependapat dengan saya.. ^^

Selain mendapatkan pembelajaran dari filmnya, saya juga mendapatkan pembelajaran dari Behind of Scene dari film ini karena sebelumnya kita juga menonton Behind of Scene-nya. Setelah menontonnya saya mendapatkan informasi bahwa untuk menciptakan suatu film tidaklah mudah. Bayangkan saja. Film yang hanya berdurasi 90 menit ini diselesaikan dalam waktu 2 setengah tahun. Menakjubkan bukan? Tapi mengapa mereka bisa bertahan untuk menyelesaikan film ini?? Hal tersebut karena mereka mempunyai komitmen yang tinggi terhadap pekerjaan mereka. Hal ini memberi inspirasi bagi saya karena saya langsung menerapkannya dalam kehidupanku yaitu bahwa untuk mencapai suatu tujuan, kita harus mempunyai komitmen yang tinggi dan berusaha semaksimal mungkin.

Sekian dulu testimoni dari saya.. THANK YOU.. ^^

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teacher Centered atau Learner Centered??

Dewasa ini, kita telah mengenal 2 jenis proses pembelajaran yaitu teacher centered dan learner centered. Pertanyaannya adalah manakah proses pembelajaran yang jauh lebih efektif????
Berikut saya akan memberikan sedikit pembahasan mengenai pertanyaan tersebut.


Teacher centered adalah proses pembelajaran yang berpusat pada si pengajar. Dalam proses pembelajaran ini, gurulah yang mengarahkan pembelajaran murid. Gurulah yang mengatur semua kegiatan murid dalam kelas. Gurulah yang memberikan penjelasan mengenai suatu materi pelajaran dan peserta didiknya duduk dengan diam di bangku untuk mendengarkan dan berusaha memahaminya. Dalam proses pembelajaran ini, umumnya peserta didik bersifat pasif ketika proses pengajaran berlangsung. Guru pada proses pembelajaran ini menjadi instruktor dan hanya muridlah yang menjadi pembelajarnnya.


Learned centered adalah proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (murid). Dalam proses pembelajaran ini, murid sendiri yang bertindak aktif dalam membangun pemahamannya berdasarkan informasi-informasi yang telah dia dapatkan sebelumnya. Murid-murid berusaha mengumpulkan segala macam informasi dan berusaha membentuk pemahamannya sendiri yang kemudian akan didiskusikan dalam kelas.Dalam pendekatan ini, umumnya murid-murid akan bersifat sangat aktif ketika proses pengajaran berlangsung. Guru pada proses pembelajaran ini menjadi fasilitator saja dan baik guru ataupun murid sama-sama menjadi pembelajarnya.

Setelah melihat sedikit penjelasan mengenai ciri-ciri Teacher-centered dan Learned-centered, maka dapat dikatakan bahwa sistem pengajaran yang jauh lebih efektif adalah Learner-centered karena bisa langsung dihubungkan dengan konteks dunia nyata/permasalahan nyata yang akan kita hadapi. Akan tetapi, menurut beberapa ahli prinsip learner centered sulit diterapkan pada pelajaran-pelajaran yang sudah tersusun secara baik seperti matematika dan sains (Untuk pelajaran seperti ini lebih baih digunakan sistem Teacher-centered). Selain itu, salah satu kelemahan prinsip Learner-centered adalah kurang efektif untuk diterapkan di level pengajaran awal dimana murid belum mempunyai cukup pengetahuan untuk membuat keputusan atau membuat suatu pemahaman tersendiri mengenai pelajaran yang akan mereka pelajari.
Dengan kata lain, prinsip Teacher centered dan Learner centered adalah 2 sistem pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang paling efektif adalah perpaduan dari keduanya dimana si pengajar dan peserta didik sama-sama menjadi pusat pembelajarannya. Salah satu contohnya adalah pengajar memberikan penjelasan mendasar mengenai suatu pelajaran, lalu dilanjutkan dengan pertanyaan kepada peserta didik untuk melihat seberapa jauh pemahaman anak terhadap materi serta berusaha mengembangkan pemahamannya tersebut.

Sekian pembahasan dari saya. Enjoy it!!

Referensi:
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (Edisi Kedua). Jakarta: Prenada Media Group

Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Google Talk