- Kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis ==> setiap proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan temuan yang paling maju di bidang sains kontemporer dan dalam korespodensi total dengan ideologi kita.
- Kaitan antara kehidupan dan pekerjaan sebagai kegiatan yang mendidik manusia ==> setiap konten yang pembelajar ambil di sekolah haruslah berguna dalam kehidupan sehari-hari, kini dan kelak.
- Kombinasi karakter kolektif dan individual pendidikan, serta penghormatan terhadap kepribadian siswa ==> Jika proses paedagogis terjadi dalam konteks sekelompok orang, maka setiap anggota seharusnya memiliki kekhususan unik yang membedakan dia dari yang lain dan memiliki hak untuk dipertimbangkan dan dihormati juga.
- Kesatuan pengajaran, pendidikan dan perkembangan proses ==> ketika seseorang menempuh pendidikan dia harus menjalani proses pembelajaran yang baik yang akan membuat dia mencapai keterdidikan, dalam makna terwujudnya pencapaian jaminan pengembangan pribadi.
- Domain kognitif dan afektif tidak bisa berada dalam suasana yang kering ==> proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan kesatuan dan hubungan antara kondisi manusia (kemungkinan mengetahui dunia sekitarnya dan dunia sendiri serta pada saat yang sama perasaan dan tindakan kemungkinan menjadi terpengaruh oleh dunia itu.
- Masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain ==> aspek kepribadian dibentuk dan dikembangkan atas aktivitas dan melalui proses komunikasi.
What do you think about my blog?
Paedagogi Teoritis dan Prinsip-prinsip Paedagogis
Hello..^^
Dalam posting kali ini, akan dijelaskan mengenai "apa sajakah prinsip-prinsip dari proses paedagogis?" dalam posting sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa paedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru (Selengkapnya lihat Paedagogi Pertemuan Kedua). Tapi, sebelum membahas mengenai apa saja prinsip-prinsip paedagogis tersebut, tentu saja akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai "apa yang dimaksud dengan prinsip-prinsip paedagogis?" So, Check it out.. :D
Prinsip-prinsip proses paedagogis adalah tesis dasar psikopaedagogis, pada arah paedagogis yang menjadi standar dan prosedur tindakan untuk menentukan dasar paedagogis yang paling penting dalam proses pendidikan kepribadian.
Beberapa prinsip-prinsip paedagogis menurut Addine (2001) adalah
Daftar Pustaka:
Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta
Read More..
Read User's Comments(0)
Kaitan Paedagogi dan Paradigma Belajar
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa terlepas dari proses belajar. Setiap individu tetap akan mengalami proses belajar dimulai dari kelahirannya sampai pada kematiannya. Salah satu tempat dimana individu bisa belajar adalah di sekolah. Dalam sekolah, biasanya terdapat interaksi guru sebagai pengajar dengan siswa di kelas. Dalam kaitannya dengan interaksi antara guru dengan siswa, terdapat beberapa istilah yang relevan yang sering disalahartikan oleh masyarakat, yaitu mengajar, belajar, pengajaran, dan pembelajaran. Berikut ini, akan dijelaskan pengertian dari istilah-istilah tersebut sehingga istilah tersebut tidak lagi disalahartikan dan dapat dipergunakan secara tepat. Selain itu,pada bagian akhir posting ini, akan disajikan lima strategi mengajar agar peran guru dapat menjadi lebih efektif. So, Check it out Guys.. ^^
Terdapat beberapa istilah yang releven dalam kaitannya dengan masalah interaksi guru dengan siswa di kelas, yaitu:
- Mengajar, merujuk pada tugas utama guru di dalam kelas
- Belajar, merujuk pada tugas utama siswa, baik di dalam ,maupun di luar kelas. Akan tetapi, istilah belajar tidak hanya diperuntukkan kepada siswa. Guru pun harus tetap belajar atau menjadi pembelajar, sama seperti halnya pada siswa.
- Pengajaran, bermakna interaksi guru dengan siswa, namun peran guru lebih dominan.
- Pembelajaran, bermakna interaksi guru dengan siswa, namun keduanya memiliki peran penting, bahkan condong mengarah pada student centered.
Dari penjelasan diatas, dapat terlihat bahwa terdapat perbedaan pengertian dari masing-masing istilah tersebut. Walaupun semua istilah tersebut mempunyai kata dasar yang sama, tetapi perlu diingat bahwa istilah-istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda.
Perlu diketahui bahwa setiap guru mempunyai strategi mengajar yang berbeda-beda dan hal tersebut didsari pada paradigma yang berbeda mengenai cara siswa belajar. Asumsinya adalah bahwa yang pembelajaran yang lebih akan terjadi ketika guru mulai mendapatkan pemahaman yang prima tentang bagaimana kegiatan belajar terjadi. Seorang guru akan menjadi lebih efektif bila dia secara sadar memilih untuk menggunakan strategi mengajar, memperluas pembendaharaan strategi, dan ahli dalam menggunakan strategi tersebut. Adapun lima strategi mengajar tersebut adalah sebagai berikut:
- Strategi 1: Pelatihan dan pelatihan lanjut, yaitu mengembangkan keterampilan dasar dan lanjutan dengan tujuan yang jelas, melaksanakan pembelajaran dengan langkah-langkah tertentu, dan memperkuat setiap kemajuan. ==> didasari oleh hasil temuan psikologi perilaku.
- Strategi 2: Ceramah dan menjelaskan, yaitu menyajikan informasi dengan cara yang dapat dipahami, mudah diproses, dan diingat. ==> didasari oleh hasil temuan psikologi kognitif.
- Strategi 3: Mencari dan menemukan, yaitu pembelajaran keterampilan berpikir, pemecahan masalah, dan kreativitas melalui penyelidikan dan penemuan. ==> didasari oleh hasil temuan tentang proses berpikir dan penelitian psikologis pada penalaran dan kreativitas.
- Strategi 4: Kelompok dan tim, yaitu berbagi informasi, bekerja secara kooperatif pada pembelajaran proyek, serta mengeksplorasi sikap, pendapat, dan keyakinan melalui proses kelompok. ==> didasari oleh temuan tentang komunikasi kelompok dan tim.
- Strategi 5: Pengalaman dan refleksi, yaitu mengaktifkan siswa untuk merefleksikan pembelajaran yang terjadi di lingkungan kerja, magang, studi wisata, atau kegiatan di luar ruangan. ==> didasari oleh hasil temuan teori belajar holistik dan teori-teori konseling yang memfasilitasi wawasan dan pemahaman diri.
Kelima strategi mengajar tersebut menyediakan kerangka kerja konseptual yang berguna untuk mengorganisasikan kegiatan pembelajaran. Kelimanya dapat digunakan dengan materi pelajaran dalam pengaturan apapun dan di setiap kelompok usia siswa, bahkan juga untuk siswa perguruan tinggi.
Daftar Pustaka:
Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta
Read More..
Paedagogi Pertemuan Kedua
5 Maret 2012..
Tanggal tersebut merupakan hari pertemuan kedua untuk salah satu mata kuliah yang kuambil di semester 4 di Fakultas Psikologi USU, yaitu Paedagogi. Sebelum membahas mengenai pertemuan tersebut, saya akan menjelaskan sedikit pengertian dari paedagogi itu sendiri. Paedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran. Dengan kata lain, paedagogi juga membahas mengenai bagaimana cara seorang guru mengajar atau seni mengajar (the art of teaching).
Dalam pertemuan kedua mata kuliah Paedagogi, materi yang seharusnya dibahas bersama dengan dosen adalah mengenai "Seni dan Ilmu Mengajar." Akan tetapi, jalannya perkuliahan pada pertemuan tersebut sungguh tidak biasa. Dosen pengampu bukannya memberikan ceramah ataupun mengajak diskusi mengenai topik tersebut, tetapi malah meminta kita semua sebagai peserta didik untuk membuka website EditGrid. Saya sama sekali tidak pernah membuka website tersebut, bahkan saya tidak pernah mendengar informasi sedikitpun mengenai website tersebut. Kami pun diajarin oleh Beliau untuk mendaftarkan diri di website tersebut supaya dapat memanfaatkan fasilitasnya. Setelah berhasil membuat account di website tersebut, kami pun kembali mengikuti instruksi yang diberikan oleh Beliau dan pada akhirnya kami diminta untuk mengesplorasi sendiri website tersebut. Walaupun cukup membingungkan, tetapi proses eksplorasi tersebut benar-benar menyenangkan. Setelah cukup bereksplorasi di dalam website EditGrid, kami pun kembali diminta oleh dosen pengampu untuk membuka website e-learning USU. Sama seperti sebelumnya, kami mengikuti instruksi Beliau untuk melakukan registrasi ataupun login. Setelah itu, kami diminta untuk bergabung dalam conference chat yang difasilitasi oleh website e-learning USU. Akan tetapi, kami semua mengalami kesulitan ketika ingin memasuki room chat tersebut karena cara dosen untuk masuk ke dalam room chat berbeda dengan cara yang harus dilakukan mahasiswa. Kami pun lagi-lagi bereksplorasi sendiri untuk mencari cara memasuki room tersebut. Akhirnya, salah satu peserta didik berhasil mendapatkan cara memasuki room chat tersebut. Kami pun langsung mengikuti caranya tersebut dan.... Well done!! Semua peserta didik MK Paedagogi berhasil berada dalam satu room chat yang sama dan bisa berdiskusi. Tak beberapa lama kemudian, perkuliahan tersebut pun diakhiri. Lalu, apa yang kami dapatkan dalam pertemuan perkuliahan tersebut??
Menurut saya, apa yang dilakukan oleh dosen pengampu dalam membawakan materi "Seni dan Ilmu Mengajar" lebih secara praktis daripada teoritis (seperti dengan cara ceramah dan diskusi). Menurut Prof. Dr. Sudarwan Danim, mengajar merupakan seni dan ilmu mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu. Dalam hal ini, dosen pengampu berusaha memberitahukan informasi mengenai website-website tertentu dan fasilitas-fasilitas yang dapat dimanfaatkan serta seni dari mengajar itu sendiri secara tersirat dan praktis. Walaupun website-website yang ditunjukkan oleh Beliau tidak mempunyai kaitan dengan topik yang seharusnya kami pelajari, tetapi Beliau sendiri telah menunjukkan seni mengajarnya kepada kami sebagai peserta didiknya. Beliau memberitahukan proses awal bagaimana kami harus berproses dalam website tersebut. Setelah itu, Beliau meminta kami semua untuk bereksplorasi sendiri dalam website tersebut. Cara mengajar seperti ini lebih sering dikenal dengan istilah Trial and Error. Kami diminta untuk mencoba bereksplorasi sendiri dalam website tersebut untuk menemukan cara bagaimana cara memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia secara maksimal. Jika gagal, kami pun harus segera mencoba cara-cara lainnya untuk bisa menemukan jawaban tersebut.
Badan Nasional Standar Profesional Pengajaran di Amerika Serikat telah membuat rumusan yang baik tentang pengajaran, dimana pendidik memfasilitasi peluang belajar siswa tidak hanya sekedar menempatkan orang-orang muda di lingkungan edukatif, melainkan juga harus memotivasi, menangkap hati dan pikiran, serta melibatkan peserta didik secara aktif di dalam pembelajaran. Menurut saya, hal tersebut sudah dilakukan oleh Beliau di dalam kelas MK Paedagogi pada hari itu. Mahasiswa benar-benar sangat aktif di dalam proses pembelajaran dimana mereka berusaha keras untuk menemukan cara memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada dalam website tersebut, terutama ketika berusaha memasuki chat room yang difasilitasi oleh e-learning USU. Ketika salah satu peserta didik berhasil memasuki chat room tersebut, dosen pengampu justru memberikan kesempatan kepada peserta didik tersebut untuk menberitahukan secara langsung kepada peserta didik yang lain. Hal ini membuktikan bahwa Beliau berusaha untuk membuat peserta didiknya seaktif mungkin dan kejadian ini juga memberikan pengalaman praktek mengajar secara langsung pada peserta didik tersebut.
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dosen pengampu lebih memilih untuk membawakan materi secara praktis karena hal tersebut akan lebih merangsang peserta didik untuk menjadi aktif dan lebih dapat mengerti mengenai materi yang ingin disampaikan. Selain itu, proses perkuliahan seperti ini benar-benar sangat menyenangkan dan tidak membosankan. Ditambah lagi, selain materi "Seni dan Ilmu Mengajar" yang seharusnya kami pelajari pada hari itu, kami juga mendapatkan banyak informasi-informasi lain, seperti website-website baru dan fasilitas-fasilitasnya yang akan sangat membantu kami nantinya, terutama dalam menjalani proses perkuliahan.
Daftar Pustaka:
Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi., Bandung: Alfabeta
Regards,
Steven (10-025)
Read More..
New online shop...
Hey everybody.. long time no chat..
Today i want to announce about my new online shop.. "DeliciouS Store"...
This time, we'll be more professional to serve our customers and also we have some new products that may attract your attention... So, Visit our blog and take a look... =D
http://delicious-store.blogspot.com/
Thank you.. =D
An introduction about my online shop... "Gestalt Shop"
5/28/2011 04:21:00 PM |
Label:
My online shop
Welcome to KnowPs1chol0gy...!!!
With this post, i want to declare to all of you about my online shop.. "Gestalt Shop"
Please take a look and if there's some products that make you interested, just contact me... Remember.. don't be shy to ask... these are some of my products...
Android Speaker Special (For BB, PC, Laptop, Netbook, FM Radio) => recommended product..
Android Speaker (Only for PC/Laptop)
Android Flashdisk 4 GB
I-phone Pillow (Size: 40cm*20cm*13cm)
Unique Lamp (Tersedia 3 bentuk unik seperti gambar diatas)
Unique Eyeclock (Jam Meja yang benar-benar unik)
Those are some of my products.. For more information about the price and the specification, you can contact me at my shop account... Gestalt Shop <==(just click the name and you will go to my online shop.. ^^.. there has my phone number too, so you can contact me anytime)..
Or you can comment in this post...
And this is a link to go to my albums "Gestalt Albums"
Thank You.... Your trust is our pride... =)
Read More..
Pengembangan TIK di SMA Sutomo 2
5/15/2011 11:36:00 PM |
Label:
TUGAS MINI PROYEK
Tugas Mini Proyek Kelompok 6
Steven (10-025)
Vivian Felicia (10-043)
Vera Gandhi (10-057)
Topik: Peran teknologi sebagai media belajar pada siswa SMA
Judul: Pengembangan TIK di SMA Sutomo 2
PERENCANAAN
Pendahuluan
Ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang pesat pada zaman sekarang ini dalam berbagai hal, baik untuk bisnis, pendidikan, pertemanan, dan sebagainya. Hal ini berkaitan dengan semakin majunya peradaban umat manusia. Menyadari pentingnya hal tersebut, topik yang akan diangkat dalam penelitian kali ini adalah “Peran teknologi sebagai media belajar pada siswa SMA”.
Adapun topik tersebut dipilih karena peran teknologi tidak terlepas dari dunia pendidikan sekarang ini. Dari tahun ke tahun, dunia pendidikan semakin dimodifikasi berhubungan dengan kemajuan teknologi. Contohnya saja pada tahun 90-an, sekolah-sekolah belum menggunakan komputer sebagai salah satu media belajar. Berbeda pada awal 2000-an dimana sedikit demi sedikit komputer sudah diperkenalkan dalam dunia pendidikan dan digunakan sebagai media belajar. Semakin berkembangnya zaman, kita sendiri tahu bahwa sekarang ini, hampir setiap sekolah (walaupun tidak semuanya) telah menggunakan komputer sebagai salah satu media belajarnya. Baik sebagai salah satu mata pelajaran praktikum, digunakan dalam membuat tugas, bahkan sebagai media berkomunikasi dengan guru maupun teman sebaya. (Santrock, J.W. 2008. Psikologi Pendidikan)
Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah murid kelas 2 SMA Sutomo 2 Medan. Sekolah ini dipilih karena teknologi yang disediakan sudah cukup memadai. Adapun teori yang dirumuskan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) mengenai 4 pendekatan dalam pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) meliputi emerging approach, applying approach, integrating approach, dan transforming approach.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peran teknologi telah berkembang di sekolah tersebut serta mengetahui tahap pendekatan mana yang telah dicapai oleh sekolah sesuai dengan teori yang telah dirumuskan oleh UNESCO tersebut.
Landasan Teori
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak positif pada semakin terbukanya dan tersebarnya informasi dan pengetahuan dari dan ke seluruh dunia menembus ruang dan waktu. Adapun dampak negatifnya masuknya nilai, norma, aturan dan moral kehidupan negara luar ke dalam negeri ini. Menghadapi kenyataan ini, maka peran pendidikan sangat penting untuk mengembangkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatifnya. Pendidikan merupakan sebuah proses akademik yang tujuannya untuk meningkatkan nilai sosial, budaya, moral, maupun agama peserta didik; juga mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan dan pengalaman dalam kehidupan nyata. Adapun peran pengajar disini adalah berusaha mengarahkan peserta didik agar mampu memaksimalkan pengetahuan dan keterampilannya.
Menurut buku Santrock, jika murid ingin siap kerja, teknologi harus menjadi bagian yang integral dari sekolah dan pelajaran di kelas. Orang menggunakan komputer, bolpoin, surat, dan telepon untuk berkomunikasi. Hal ini merupakan revolusi teknologi. Masyarakat masih mengandalkan beberapa keahlian nonteknologi mendasar seperti keterampilan berkomunikasi, kemampuan memecahkan masalah, berpikir mendalam, berpikir kreatif, dan bersikap positif. Akan tetapi, di dunia yang kini berorientasi pada teknologi, kompetensi orang makin ditantang dan diperluas dengan cepat (Bitter & Pierson; Collis & Sakamoto, 1996; Nickerson, 2000).
Karena alasan-alasan tersebut, sekolah-sekolah sudah mulai mengembangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam sistem kurikulumnya. Para ahli mendefinisikan berbagai pendekatan dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk pendidikan. Pendekatan ini dihubungkan dengan situasi di sekolah tertentu di semua level khususnya tingkat SMA yang berhubungan dengan pertumbuhan TIK dalam sistem persekolahan. Suatu sekolah dapat menentukan model pendekatan sendiri sesuai dengan kondisi sekolahnya. Masing-masing sekolah harus berupaya untuk menemukan dan mengembangkan satu pendekatan yang cocok sesuai dengan potensi yang dimiliki sekolah, sebab pendekatan pengembangan TIK memberikan kontribusi berarti terhadap pengembangan kemajuan pendidikan di masa yang akan datang.
Penerapan TIK di sekolah memerlukan pendekatan yang tepat dengan tujuan, kondisi dan kemampuan sekolah. Hal ini karena penerapan TIK memerlukan dukungan baik dari faktor sumber daya beserta faktor sarana dan fasilitas pendukung. Setiap pendekatan TIK termasuk di dalamnya adalah visi, misi, tujuan, pengembangan perencanaan, fasilitas yang dibutuhkan, metode pembelajaran dan sistem evaluasi. Hal ini sejalan dengan rumusan UNESCO (Santrock, J.W. 2008. Psikologi Pendidikan) dimana terdapat 4 pendekatan dalam pengembangan TIK di sekolah, yang meliputi :
1. Emerging Approach
Pendekatan ini merupakan langkah awal dalam mengembangkan langkah-langkah TIK disekolah. Sekolah mulai menyediakan beberapa peralatan dan beberapa perangkat lunak (software). Pada tahap awal ini, pengelola sekolah serta guru memulai untuk mengkaji konsekuensi dan berbagai kemungkinan penerapan TIK pada kurikulum sekolah. Pada tahap ini, sekolah masih memegang sistem pembelajaran teacher-centred yang sifatnya tradisional. Misalnya, para guru memberi materi dengan menyediakan materi dan para peserta didik hanya mendengarkan dan mencatat materi yang telah ditentukan.
2. Applying Approach
Pendekatan ini berhubungan dengan sekolah dimana kontribusi TIK terhadap aspek pembelajaran telah berkembang. Tahap ini sudah satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai objek untuk dipelajari. Pada tahap ini para guru dan pengembang menggunakan TIK untuk berbagai tugas dalam hal manajemen sekolah dan pelaksanaan kurikulum. Misalnya, guru memberikan pelajaran dengan menerapkan TIK, seperti dengan melalui program presentasi dan word-processed. Para peserta didik dapat mengakses teknologi menggunakan satu atau dua komputer di kelas dan di laboratorium komputer. Pada tahap ini TIK belum terintegrasi dengan kurikulum.
3. Integrating Approach
Pendekatan ini ditandai dengan keadaan sekolah yang sudah dilengkapi perangkat teknologi yang menyatu dengan laboratorium, kelas, dan kantor administratif. Pengembang TIK di sekolah mengembangkan cara baru yang produktif untuk pengembangan TIK secara profesional. Pada tahap ini, TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran). Kurikulum sudah menggabungkan mata pelajaran dalam sebuah aplikasi dunia nyata. Misalnya, materi disajikan dalam berbagai sumber yang melibatkan masyarakat dan sumber daya global melalui internet. Para peserta didik mengakses teknologi dengan menggunakan dan menjadikannya sebagai alat untuk menunjukkan pengetahuannya dalam penguasaan materi pelajaran. Dalam model ini sekolah mulai melibatkan masyarakat dan lingkungan sebagai sumber belajar.
4. Transforming Approach
Pendekatan ini dihubungkan dengan sekolah yang telah menggunakan TIK secara kreatif untuk mengevaluasi dan memperbaharui organisasi sekolah. Tahap ini merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah menjadi katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan. Fokus kurikulum adalah learner-centred dan mengintegrasikan materi pelajaran kedalam aplikasi dunia nyata. Misalnya, para peserta didik dapat berpartisipasi bekerja dengan para pemimpin masyarakat untuk memecahkan permasalahan lokal dengan mengakses, menganalisa, melaporkan dan mempresentasikan informasi dengan perangkat TIK. Pada pendekatan ini, sekolah telah menjadi suatu pusat pembelajaran bagi masyarakat.
Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan diatas, kelompok kami ingin mengetahui sejauh mana pendekatan pengembangan TIK yang telah diterapkan oleh SMA Swasta Sutomo 2 Medan sesuai dengan rumusan yang dikeluarkan oleh UNESCO.
Alat atau Bahan
- Kuesioner sebagai alat ukur tes
- Printer untuk mencetak kuesioner
- Kamera untuk dokumentasi
- Snack sebagai reward
Analisis Data
Data yang didapatkan terdiri dari 20 item yang mencakup 4 pendekatan dengan masing-masing pendekatan berjumlah 5 item. Data diolah dengan statistik deskriptif menggunakan tendency central berupa modus. Kesimpulan ditarik berdasarkan item yang paling banyak dipilh yang kemudian akan menunjukkan pendekatan TIK yang telah dikembangkan oleh sekolah Sutomo 2.
Objek atau Subjek
Data diambil di sekolah SMA Sutomo 2 Medan dengan subjek penelitian adalah murid SMA Sutomo 2. Populasi murid SMA di sekolah Sutomo 2 berjumlah sekitar 500 orang, sedangkan sampel yang digunakan berjumlah 30 orang yang diambil dari kelas XI-IPA1.
- 5 April 2011 : penentuan topik dan judul
- 12 April 2011 : Menentukan asumsi teori yang dipilih
- 19 April 2011 : Menyusun pendahuluan, landasan teori, kuesioner, serta alat dan bahan
- 26 April 2011 : Menanyakan ketersediaan sekolah Sutomo 2 untuk diteliti
- 30 April 2011 : Meminta surat izin fakultas
- 2 Mei 2011 : Berdiskusi dengan Bu Dina mengenai teori yang dipilih
- 3 Mei 2011 : 1) Berdiskusi dan memperoleh bimbingan Bu Dina mengenai penelitian. 2) Mendapat izin dari sekolah Sutomo 2 dan menentukan hari yang dipilih untuk melakukan penelitian
- 6 Mei 2011 : Melakukan penelitian ke sekolah Sutomo 2
- 9 Mei 2011 : Menganalisis data
Kalkulasi Biaya
- Biaya print kuesioner : Rp 4.000,-
- Biaya fotokopi kuesioner : Rp 15.000,-
- Biaya transportasi: Rp 20.000,-
- Biaya snack : Rp 16.000,-
PELAKSANAAN
Penelitian dilakukan pada tanggal 6 Mei 2011 ke sekolah SUTOMO 2. Kelompok berangkat dari rumah masing-masing jam 9 pagi dan sampai di sekolah Sutomo 2 jam 10. Sebelum memasuki gerbang sekolah kelompok memeriksa terlebih dahulu barang-barang yang telah dipersiapkan untuk melakukan penelitian, berupa kuesioner, snack dan kamera. Setelah semuanya lengkap, kelompok memasuki gerbang sekolah dan meminta izin kepada satpam untuk bertemu dengan guru BP. Sesampainya di ruang BP, kelompok diminta menunggu sebentar karena pada jam itu sedang jam istirahat sehingga para siswa yang ingin diteliti tidak berada di tempat.
Setelah bel tanda pelajaran dimulai, kelompok dibawa oleh guru BP ke ruangan kelas XI-IPA1. Awalnya, guru BP memasuki ruangan kelas terlebih dahulu dan menjelaskan sedikit mengenai kegiatan penelitian kelompok. Kemudian setelah selesai, kelompok dipersilahkan masuk dan kelompok diperkenalkan oleh guru BP kepada para murid. Setelah perkenalan, guru BP meninggalkan kelompok di ruangan kelas tersebut dan kelompok mulai menjelaskan prosedur penelitian. Sementara salah seorang dari anggota kelompok menjelaskan prosedur, anggota yang lain mulai membagikan kuesioner kepada para murid dan yang lainnnya mengambil foto untuk dokumentasi. Setelah prosedur selesai dijelaskan, murid-murid dipersilahkan untuk mengisi kuesioner tersebut. Sepuluh menit kemudian, kuesioner mulai yang telah diisi mulai dikumpulkan dan kelompok memberikan snack sebagai reward kepada para murid yang telah mengisi kuesioner. Akhir kata, kelompok mengucapkan terima kasih kepada mereka atas ketersediaan mereka untuk mengisi kuesioner.
Setelah selesai, kelompok pun keluar dari kelas dan bertemu dengan wali kelas mereka. Kelompok pun berjabat tangan dan mengucapkan terima kasih serta berfoto dengan beliau. Terakhir, kelompok pun mengabadikan beberapa foto didalam dan disekitar sekolah Sutomo 2.
PELAPORAN dan EVALUASI
Laporan
Dari data yang diperoleh dari 30 sampel, didapatkan:
- Tidak ada satu orangpun yang menyatakan bahwa Pengembangan TIK di Sekolah SMA Sutomo 2 sampai pada tahap Emerging Approach.
- 27 orang menyatakan bahwa Pengembangan TIK di Sekolah SMA Sutomo 2 sudah sampai pada tahap Applying Approach.
- 3 orang menyatakan bahwa Pengembangan TIK di Sekolah SMA Sutomo 2 sudah berada pada tahap Integrating Approach.
- Tidak ada satu orangpun yang menyatakan bahwa Pengembangan TIK di Sekolah SMA Sutomo 2 sudah sampai pada tahap Transforming Approach.
Dari data-data yang diperoleh tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar sampel (30 murid SMA Sutomo 2) menyatakan bahwa pengembangan TIK di sekolahnya, yaitu SMA Sutomo 2, sudah sampai pada tahap Applying approach. Kesimpulan ini ditarik berdasarkan modus yang didapatkan dari data-data tersebut.
Bagian poster yang di-zoom:
Landasan Teori
Objek dan tujuan penelitian
Pelaksanaan
Laporan
Testimoni
Evaluasi
Tugas mini proyek ini seharusnya mulai dilakukan pada bulan Februari, namun karena adanya beberapa halangan sepertinya banyaknya tugas dari mata kuliah lain, adanya ujian tengah semester, hingga kurangnya waktu berkomnukasi antar anggota kelompok, maka tugas mini proyek ini pun sempat terbengkalai. Akhirnya setelah selesai UTS pada awal bulan April, kelompok baru memiliki waktu untuk memulai tugas proyek ini.
Perencanaan awal yang dilakukan sudah cukup matang dan terstruktur, tetapi dalam pelaksanaannya terjadi beberapa penyimpangan. Misalnya penelitian diharapkan dapat dilaksanakan pada tanggal 3 Mei, tetapi sekolah Sutomo 2 menetapkan tanggal 6 Mei. Pada hari H-nya, waktu yang diberikan oleh sekolah untuk memasuki kelas hanya 10 menit, padahal waktu yang diharapkan adalah 20 menit. Hal ini menyebabkan penjelasan yang disampaikan kepada sampel menjadi lebih sedikit dan tidak ada basa-basi lagi. Sample terlihat berantusias mengisi kuesioner yang diberikan, meskipun ada satu-dua sampel yang mengerjakannya dengan wajah merengut (mungkin karena tidak tahu harus memilih jawaban yang mana). Walaupun reward yang diberikan bukanlah seseuatu yang mahal, tetapi sampel cukup senang saat menerimanya.
Ada juga beberapa kendala dalam perhitungan data seperti item yang diharapkan terisi semua malah ada beberapa siswa yang mengosongkan beberapa item. Untunglah kelompok mengambil sampel sebanyak 32 orang, sehingga adanya beberapa item yang tidak terisi beberapa siswa tidak disertakan dalam penghitungan data.
Dari segi perkiraan biaya juga terjadi sedikit penyimpangan. Dalam kalkulasi biaya, kami hanya memprediksi akan mengeluarkan Rp. 55.000,- sedangkan setelah dilakukan pelaksaannya ternyata biayanya melebihi dari yang dikalkulasikan sebelumnya yaitu Rp. 63.000,-. Secara keseluruhan, penelitian ini telah berjalan dengan lancar meskipun terdapat beberapa kendala dan hambatan dalam pelaksanaannya.
Testimoni
“Pengerjaan proyek ini benar-benar menguras tenaga dan waktu. Mungkin hal ini karena kami agak telat mengerjakannya. Bahkan, sempat terjadi konflik antara kami bertiga. Tapi hasilnya cukup memuaskan dan kami sangat menikmati proses pengerjaanya, baik suka maupun duka. Yang jelas, pengerjaan tugas mini proyek ini memberikan pengalaman pertama yang sangat bermanfaat yang akan sangat membantu kami ke depannya.”
- Steven : Tugas mini proyek ini susah-susah gampang. Walaupun pengerjaannya cukup sulit, namun hasilnya cukup memuaskan dan ini menjadi pengalaman yang berharga.
- Vera Gandhi : Walaupun output dari tugas penelitian ini hanya berupa selembar poster tetapi perencanaan dan prosesnya memakan waktu yang sanggggaaaatttt lama. Kekompakan antar anggota juga benar-benar diuji.
- Vivian Felicia: Mini proyek ini merupakan tugas pertama yang melibatkan penelitian dan kuesioner. Benar-benar banyak pengalaman baru dan menyenangkan yang didapat dari penelitian ini.
Dokumentasi
Video yang diambil ketika pelaksanaan
Diskusi bagian perencanaan di kantin Psikologi
Diskusi bagian perencanaan di kantin Psikologi
Hasil kuesioner yang telah dicetak
Foto di sekolah sutomo 2 sesaat setelah pengambilan data
Foto murid-murid SMA yang sedang mengisi kuesioner
Pemberian reward kepada murid-murid SMA Sutomo 2 yang telah mengisi kuesioner
Mengamati murid-murid yang sedang mengisi kuesioner
Mengamati murid-murid yang sedang mengisi kuesioner
Murid mengembalikan kuesioner yang telah diisi
Foto bersama wali kelas
Foto bersama di luar sekolah
Foto bersama di luar sekolah
Kuesioner halaman pertama
Kuesioner halaman kedua
Daftar Pustaka:
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
Munir., (2008). Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung: Alfabeta
Read More..
Apa itu Andragogi??
5/08/2011 09:21:00 PM |
Label:
Tugas11
Kata Andragogi mungkin sangat jarang didengar sehingga banyak orang yang tidak mengetahui apa itu sebenarnya andragogi. Oleh karena itu, pada postingan kali ini, penulis akan menjelaskan mengenai andragogi. Enjoy it.. =)
Andragogi diartikan sebagai seni dan ilmu yang bertugas untuk membantu dewasa belajar. Dengan kata lain, andragogi adalah program pendidikan untuk orang dewasa. Perbaikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia, dan kemajuan-kemajuan teknologi umumnya, memberi dorongan dan kesempatan orang dewasa untuk kembali belajar, baik meneruskan pendidikan yang dirasa belum selesai, maupun belajar hal-hal baru (autodidak). Pendidikan orang dewasa ini penting dalam membantu orang dewasa belajar kembali, seperti melalui pelatihan atau kursus, untuk dapat meningkatkan kemampuan mereka.
Pendidikan bagi orang dewasa perlu disusun sedemikian rupa agar memberi pengalaman-pengalaman yang dapat mencapai tujuan pendidikan. Adapun empat hal yang perlu diperhatikan adalah:
- membantu peserta didik agar mempunyai motivasi untuk berubah. Dalam hal ini, Orang tidak akan belajar apa-apa kecuali jika mereka siap dan termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu, sangat diperlukan motivasi dari diri mereka sendiri agar proses belajar bisa berjalan lancar dan efektif. Adapun cara meningkatkan motivasi peserta didik adalah menciptakan suasana belajar yang positif dan Mendorong keinginan belajar dan menerapkan hasil belajar. Dalam hal menciptakan suasana belajar yang positif, perlu diciptakan suasana belajar yang aktif dan haruslah berfokus pada peserta didik (learner centered). Selain suasana belajar, yang perlu diperhatikan agar bisa memelihara motivasi belajar adalah materi pelajaran, format pelajaran, urutan pelajaran, sikap, pandangan, dan prioritas terhadap pelajaran.
- membantu peserta didik untuk mencerna informasi dan pengalaman secara efektif. Dalam hal ini, kita perlu memahami cara pengolahan informasi yang mereka terima. Hal tersebut karena belajar tidak akan terjadi tanpa informasi.
- membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, nilai-nilai dan sikap, atau ide-ide kreatif. Setelah mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang mereka perlukan, peserta didik harus mengembangkannya ke arah yang lebih baik dengan kreativitas yang mereka miliki.
- membantu peserta didik untuk mentransfer hal-hal yang dipelajari agar diterapkan dalam kehidupan nyata atau kehidupan sehari-hari. Setelah pengetahuan/ketrampilan diperoleh, maka peserta didik harus mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka:
Sukadji, S. (2000). Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Read More..
Kesan terhadap Olahraga Pagi di mata kuliah Psikologi Pendidikan
5/03/2011 06:03:00 PM |
Label:
kesan-kesan
Mendengar kata olahraga pagi tersebut tentu Anda sangat penasaran olahraga pagi seperti apa sih yang kita lakukan. Sebenarnya ini bukan olahraga pagi seperti Senam Kesegaran Jasmani. Akan tetapi, ini adalah olahraga pagi untuk merangsang kondisi psikologis kita supaya tidak terlalu tegang dan bisa relaks ketika belajar. Olahraga itu adalah bergerak-gerak di dalam ruang kuliah sesuai ritme musik yang dimainkan oleh laptop dosen.
Pada awalnya, kami semua disuruh untuk membentuk suatu lingkaran dengan saling berpegang tangan dengan teman disamping. Awalnya tentu saja semua segan ketika disuruh untuk berpegangan tangan. Istilahnya malu-malu kucing. Tapi pada akhirnya, semua tetap berpegangan tangan. Kami semua disuruh untuk mendengarkan dengan baik-baik ritme musik yang dimainkan dan bergerak sesuai ritmenya. Adapun gerakan yang harus diperagakan adalah bergerak ke depan, ke belakang, ke kanan, lalu menekukkan kaki. Gerakan-gerakan tersebutlah yang harus diperagakan terus menerus. Akan tetapi, ritme lagu yang dimainkan berubah-ubah. Bisa tiba-tiba cepat, bisa juga tiba-tiba lambat. Hal inilah yang sangat menyenangkan karena banyak orang yang salah-salah sehingga kami semua bisa tertawa bersama-sama.
Setelah beberapa kali kami melakukan gerakan-gerakan dalam formasi yang sama, akhirnya dosen membagi kami dalam 2 lingkaran dan dalam setiap lingkaran dipilihlah seorang komando untuk menginstruksikan kepada kami kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti. Lalu dimainkan kembalilah musik tersebut dan kami semua mulai bergerak. Diluar dugaan, gerakan kali ini bahkan jauh lebih kompak dari sebelumnya. Jujur saja, saya sangat menikmati gerakan-gerakan yang kami semua lakukan karena semua gerakannya kelihatannya sangat menyatu dan sangat enak dipandang.
Kesan yang cocok untuk kegiatan ini digambarkan dalam beberapa kata, yaitu Fun, Unexpected, Teamwork, Concentration. 4 kata tersebut tentu mengandung arti-arti tersendiri.
- Fun : Kegiatan ini sangat menyenangkan sehingga membuat kami sangat relaks. Dengan kondisi yang relaks tersebutlah, diharapkan kami bisa menerima dengan baik apa yang disampaikan oleh dosen karena emosi sangat berpengaruh pada cara persepsi dan proses kognitif.
- Unexpected: Kegiatan ini benar-benar diluar dugaan. Saya tidak pernah menyangka bahwa pada kuliah kali ini akan dilakukan kegiatan yang menyenangkan seperti ini. Sehingga kegiatan ini seperti sebuah surprise bagi saya yang semakin memacu ketertarikan saya terhadap mata kuliah psikologi pendidikan.
- Teamwork: Walaupun ini cuma games yang kelihatannya biasa, tapi sebenarnya kegiatan ini memerlukan kerja sama yang baik. Karena kami semua harus menyesuaikan gerakan semua anggota kelompok kami. Dengan kegiatan ini, kerja sama kami sebagai mahasiswa fakultas Psikologi angkatan 2010 pun semakin kompak.
- Concentration. Permainan ini sebenarnya sangat membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi. Mengapa tidak? Kami harus mendengarkan dengan baik ritme musik yang dimainkan agar kami bisa mengikutinya dengan baik. Selain itu, kondisi microphone yang suaranya kecil dan suasana kelas yang ramai semakin membuat kami sulit mendengar ritme musik tersebut. Jadi, pikiran kami benar-benar harus terfokus pada musiknya dengan baik.
Sebenarnya kegiatan tersebut dapat dihubungkan dengan teori psikologi pendidikan. Salah satunya adalah perspektif behavioral mengenai motivasi. Pada perspektif ini, disebutkan istilah insentif yang pengertiannya adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Pendukung penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan prilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari prilaku yang tidak tepat (Emmer dkk., 2000). Dalam perkuliahan tadi, kegiatan olahraga pagi itulah yang menjadi insentif buat kami yang bertujuan untuk merangsang semangat kami dalam mengikuti pelajaran yang akan diberikan oleh dosen sehingga diharapkan kami bisa menjadi lebih aktif.
Langganan:
Postingan (Atom)






















