Steven. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

What do you think about my blog?

3 Fenomena Pendidikan beserta pembahasannya

Kelompok 6
Steven (10-025)
Vivian Felicia (10-043)
Vera Gandhi (10-057)

Fenomena- fenomena yang kami dapatkan dan telah kami bahas antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Mengenai masalah Homeschooling (http://ndal.wordpress.com/2007/05/17/fenomena-pendidikan-mereka-ramai-ramai-ke-homeschooling/)
  2. Perbedaan jurusan IPA dan IPS dalam lingkungan sekolah (http://www.cerita-ilmuku.co.cc/2011/01/fenomena-pendidikan-indonesia-2.html
  3. pendidikan emansipatoris yang tadinya bertujuan membawa manusia keluar dari kungkungan kebodohan dan mencapai budi pekerti yang baik, kini mulai berbelok ke arah yang pragmatis nan materialistis. (http://zainurie.wordpress.com/2008/10/14/laskar-pelangi-dan-fenomena-pendidikan-kita/)

Pembahasan Fenomena Pertama (Homeschooling):
Berdasarkan kasus diatas, terlihat bahwa Homeschooling bisa dikatakan sebagai salah satu fenomena pendidikan yang paling meluas. Homeschooling adalah proses layanan pendidikan secara sadar, teratur dan terarah yang dilakukan oleh orangtua atau keluarga (kadang menggunakan bantuan tutor) dan proses belajar mengajar berlangsung dalam situasi yang kondusif di dalam rumah sendiri. Biasanya Homeschooling adalah program pendidikan alternatif yang memungkinkan anak untuk berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing ataupun untuk mereka-mereka yang terlalu jenius ataupun yang memiliki keterbatasaan fisik.

Teori Psikologi Pendidikan
Berdasarkan teori psikologi pendidikan, homeschooling biasanya ditujukan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus atau bisa dikatakan anak-anak yang tidak biasa, seperti terlalu jenius, cacat fisik dan lain sebagainya. Menyekolahkan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah formal biasa tentu saja akan menimbulkan masalah. Untuk anak yang terlalu jenius, tentu saja dia tidak akan bisa mengikuti pelajaran dengan lancar karena kemampuan otaknya lebih dari anak-anak biasa. Untuk anak-anak yang cacad fisik bisa saja menjadi korban Bully teman-temannya. Hal ini akan mengakibatkan kondisi psikologis anak terganggu. Anak-anak berkebutuhan khusus bukan hanya seperti terlalu jenius ataupun cacad fisik saja. Masih banyak gangguan-gangguan lain yang membuat dia dikatakan sebagai anak-anak berkebutuhan khusus/anak-anak tidak biasa, seperti retardasi mental (IQ dibawah 70), dyslexia (Ketidakmampuan untuk membaca atau mengeja), dan lain sebagainya. Walaupun semua anak wajib disekolahkan, tetapi apakah menyekolahkan anak berkebutuhan khusus ke sekolah biasa akan memberikan dampak yang positif?? Untuk itulah dibuat suatu program yang dinamakan homeschooling dimana anak-anak berkebutuhan khusus ini dapat belajar di rumah.

Munculnya Homeschooling ini juga membuka kesempatan kepada setiap anak untuk mengembangkan potensinya masing-masing sesuai mata pelajaran yang dia sukai. Kegiatan homeschooling ini tentu saja akan membuat anak-anak bisa mengembangkan potensinya secara maksimal. Selain itu, pergerakan pendidikan dari teacher-centered ke learner centered juga telah membuat program homeschooling ini semakin diminati dimana setiap murid/anak dapat bersikap sangat aktif dalam proses pembelajaran di rumahnya sendiri dibandingkan di sekolah-sekolah formal. Akan tetapi, kegiatan homeschooling ini juga memberikan dampak negatifnya yaitu diantaranya adalah mengenai perbedaan sosialisasi. Dengan Homeschooling, si anak akan kurang berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat. Selain itu, Sekolah regular/formal merupakan tempat belajar yang khas yang dapat melatih anak untuk bersaing dan mencapai keberhasilan setinggi-tingginya. Jadi apabila anak belajar secara Homeschooling, otomatis dia akan kekurangan skill daya bersaing.

Teori Pendidikan keluarga
Ditinjau dari teori pendidikan keluarga, kegiatan homeschooling ini sendiri memberikan dampak baik kepada si anak. Hal tersebut karena kegiatan homeschooling adalah proses pembelajaran yang dilakukan dirumah dimana semua anggota keluarga berkumpul dan kadang ada juga kegiatan dimana anak langsung diajari oleh orang tuanya tanpa adanya tutor. Hal tersebut tentu saja akan meningkatkan hubungan orang tua dengan anaknya yang akan menghasilkan kedekatan emosional yang sangat berharga. Dengan kedekatan seperti ini, orang tua akan lebih mudah menanamkan nilai-nilai moral yang berharaga kepada si anak.

Teori Bimbingan sekolah
Ditinjau dari teori bimbingan sekolah, kegiatan homeschooling ini akan membuat anak bersikap aktif dalam mengembangkan potensi mereka masing-masing. Sebagaimana disebutkan dalam teori intelegensi Gardner bahwa intelegensi setiap orang di setiap bidang berbeda. Dengan adanya program Homeschooling ini, potensi anak bisa dikembangkan secara maksimal sehingga anak nantinya akan sangat menguasai bidang yang sangat diminatinya yang nantinya akan sangat bermanfaat bagi si anak. Kondisi ini tentu saja berbeda dimana anak sekolah di sekolah reguler yang mengajarkan semua mata pelajaran, baik yang anak itu sukai ataupun tidak secara terstruktur. Hal ini mengecilkan kemungkinan anak untuk mengembangkan potensinya secara maksimal dan pada akhirnya anak akan lebih sulit untuk menonjolkan keunggulannya.


Pembahasan Fenomena Kedua (IPA & IPS):
Berdasarkan artikel tersebut bisa kita lihat bahwa adanya pemisahan kelas menjadi IPA dan IPS merupakan suatu fenomena pendidikan yang masih diperdebatkan hingga sekarang. Adanya mindset orang yang mengangap bahwa IPA lebih baik, anak IPA lebih pintar dan sebagainya dimana dikatakan bahwa IPA itu lebih unggul daripada IPS. Sebenarnya perlu diketahui bahwa mindset seperti tersebut tidaklah tepat.

Teori Psikologi Pendidikan
Ditinjau dari teori psikologi pendidikan, ada banyak hal yang mempengaruhi seorang anak memilih jurusan IPA atau IPS, seperti motivasi dan kemampuan atau minat belajarnya.
  • Teori motivasi. ada 2 macam motivasi dalam meraih sesuatu yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi mencapai tujuan untuk sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Dalam memilih sebuah jurusan bisa saja seorang anak dipengaruhi faktor intrinsik, misalnya dia memilih jurusan IPS karena dia senang akan pelajaran sosial. Sedangkan apabila dipengaruhi faktor ekstrinsik, bisa saja karena ada tuntutan dari orang tuanya dia seorang anak memilih jurusan IPA padahal dia sangat tidak suka pelajaran eksakta. Hal ini bisa membuat anak tersebut merasa tertekan dan bahkan bisa ketinggalan pelajaran apabila dia memang tidak tertarik akan pelajaran tersebut. Namun karena adanya tuntutan orang sekitar yang menganggap anak IPA lebih pintar membuat dia mmilih jurusan yang salah.
  • Minat atau keahlian pelajar. Menurut Gardner ada banyak tipe intelegensi spesifik atau kerangka pikiran yang mempengaruhi minat atau keahlian seseorang. Setiap individu dibedakan berdasarkan keahliannya tersebut. Berkaitan dalam pemilihan jurusan, biasanya selalu dikatakan anak IPA intelegensinya lebih tinggi daripada anak IPS. Bisa dikatakan hal ini salah besar. Menurut Gardner intelegensi setiap orang tidak bisa dikatakan lebih tinggi atau lebih rendah karena keahlian setiap orang berbeda-beda. Anak yang keahlian matematikanya lebih dominan memang lebih cocok untuk memilih jurusan IPA, sebaliknya anak yang keahlian intrapersonalnya lebih baik mungkin lebih baik memang lebih cocok memilih jurusan IPS. Oleh karena itu tidak bisa dikatakan anak IPA pasti lebih pintar karena kemampuan setiap orang berbeda-beda dan tidak bisa dibanding-bandingkan.

Teori Pendidikan Keluarga
Ditinjau dari pendidikan keluarga, endidikan keluarga adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Fungsi pendidikan dalam keluarga tak terlepas dari peranan ayah dan ibu.Dalam keluarga biasanya terdapat pembianaan Intelektual serta kepribadian dan sosial.

Adapun tujuan pendidikan keluarga adalah pengembangan diri si anak. Pengembangan diri ini dibutuhkan untuk menghadapi tugas-tugas dalam kehidupannya sebagai pribadi, sebagai siswa, karyawan, profesional, maupun sebagai warga masyarakat. Pola asuh ank juga berkaitan dengan sifat anak. Ada 2 macam pola asuh, yaitu :
  • Pola asuh otoriter. Orang tua menentukan aturan-aturan dan mengadakan pembatasan-pembatasan terhadap perilaku anak yang boleh dan tidak boleh dilaksanakannya. Anak harus tunduk dan patuh terhadap orang tuanya, anak tidak dapat mempunyai pilihan lain. Orang tua memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan anak, keinginan anak, keadaan khusus yang melekat pada individu anak yang berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain. Dalam hal pemilihan jurusan IPA atau IPS ini, apabila anak dengan pola asuh otoriter, biasanya akan memilih jurusan IPA dimana orang tua biasanya menganggap jurusan IPA lebih bagus masa depannya. Akhirnya anak akan melakukan perintah orang tua karena takut, bukan karena suatu kesadaran bahwa apa yang dikerjakan itu akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak. Tidak jarang pulak hal ini akan mempengaruhi keadaan belajar si anak dan sering membuat anak yang tidak mampu menjadi stress.
  • Pola asuh bebas. Subjek asuh bebas, berorientasi bahwa anak itu makhluk hidup yang berpribadi bebas. Anak adalah subiek yang dapat bertindak dan berbuat menurut hati nuraninya. Orang tua membiarkan anaknya mencari dan menemukan sendiri apa yang diperlukan untuk hidupnya. Anak telah terbiasa mengatur dan menentukan sendiri apa yang dianggap baik. Orang tua hanya bertindak sebagai polisi yang mengawasi permainan menegur dan mungkin memarahi. Dalam pemilihan jurusan tersebut para pelajar yang pola asuhnya bebas akan bebas memilih mana yang mereka sukai dan bukan karena paksaan. Dalam menjalaninya pun pastinya mereka akan sepenuh hati karena keinginan mereka selalu didukung orang tua mereka.

Teori Bimbingan Sekolah
Ditinjau dari teori bimbingan sekolah, peran guru bimbingan penting untuk menyelenggarakan pendidikan yang utuh. Peran mereka yaitu membantu peserta didik mengenali potensi dan mengembangkan kepribadiannya. Dalam pemilihan jurusan tersebut guru pembimbing harusnya bisa mengenali potensi siswa-siswinya dan memberikan bimbingan agar mereka tidak salah pilih. Biasanya dalam pemilihan jurusan IPA, murid yang nilainya tidak mencukupi tidak akan bisa memilih jurusan tersebut dan biasanya murid yang nilainya tidak mencukupi akan terlempar ke jurusan IPA. Adanya patokan nilai seperti inilah yang membuat banyak orang menganggap anak IPA harus pintar untuk bisa masuk jurusan IPA. Peran guru disini adalah mampu membantu siswa memilih jurusan yang cocok dan memberi semangat bagi siswa yang nilainya kurang. Dalam bimbingan sekolah ini, guru juga harus bisa menjadi fasilitator yang baik. Perlu ditekankan juga guru perlu memberikan pengertian terhadap orang tua mengenai pemilihan jurusan yang baik dimana kadangkala ada orang tua yang ngotot ingin anaknya masuk ke jurusan tertentu yang padahal anaknya tidak mampu atau tidak ingin.


Pembahasan Fenomena Ketiga (Arah pendidikan yang perlahan berubah):
Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Ditambah dengan adalnya teknologi yang canggih, membantu ilmu pengetahuan tersebar dengan cepat. Namun di sisi lain, pendidikan juga mengalami krisis yang memprihatinkan. Mengapa bisa demikian? Karena lembaga pendidikan yang tadinya bertujuan untuk membawa manusia keluar dari lingkaran kebodohan dan mengajari manusia tentang budi pekerti (pendidikan emansipatoris), kini telah berputar haluan ke arah materialisitis. Sekolah yang dibangun, yang fungsinya agar kita dapat menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan, berbudi pekerti luhur, telah berubah menjadi tempat untuk mempermudah manusia mendapat gelar, pekerjaan, jabatan tinggi bergaji besar, dan sebagainya. Fungsi pendidikan bukan lagi untuk mencapai emansipatoris, tetapi menciptakan generasi baru yang berorientasi duit dan menjadi robot-robot pekerja yang baik. Konsep pendidikan yang seperti ini akan menghambat mental kemanusiaan, spiritualitas, dan mentalitas-mentalitas generasi muda Indonesia. Akibatnya, muncul banyak orang-orang berinteligensi tinggi, tapi dengan tingkat moral yang rendah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya koruptor lihai dan licik di Indonesia ini. Mereka menggunakan kepintaran mereka untuk menipu, tapi rasa kemanusiaannya seperti telah lenyap dari dalam dirinya.

Teori Psikologi Pendidikan
Ditinjau dari sudut pandang psikologi, pendidikan juga bukan hanya sekedar masalah ilmu pengetahuan saja, tetapi termasuk juga pendidikan moral. Beberapa tokoh yang mengaji masalah ini yaitu Jean Piaget, Lawrence Kohlberg, dan lainnya. Kohlberg fokus pada pendidikan moral dan banyak meneliti tentang pengajaran moral. Pendekatan Kohlberg dalam pendidikan moral disebut pendekatan kognitif-developmental. Asumsi dasar dari pendekatan model tersebut adalah:
  1. pendidikan moral memerlukan gagasan filosofis tentang moralitas,
  2. perkembangan moral melalui tahap-tahap kualitatif, dan
  3. rangsangan terhadap perkembangan moral didasarkan pada rangsangan terhadap pemikiran dan pemecahan masalah (John de Santo, 1995: 65).

Melalui pendidikan moral ini, diharapkan pendidikan di Indonesia tidak berhenti hingga tahap pengetahuan saja, tetapi juga pengajaran tentang budi pekerti dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Teori Pendidikan Keluarga
Ditinjau dari teori pendidikan keluarga, sebagian besar keluarga juga sudah jarang memperhatikan masalah moral pada anak. ayah ibu kebanyakan sama-sama bekerja untuk menghadapi tuntutan zaman, shingga anak juga tidak begitu diperhatikan lagi. Apalagi untuk masyarakat ekonomi mengengah ke bawah, orang tuanya bahkan lebih ingin anaknya bekerja walupun belum cukup umur, daripada belajar di sekolah.

Teori Bimbingan Sekolah
Ditinjau dari teori bimbingan sekolah, John Dewey mengemukakan beberapa ide penting, yaitu:
  1. Anak dibimbing sebagai pembelajar aktif (active learner).
  2. Anak juga harus diajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia di luar sekolah.
  3. Semua anak berhak mendapat pendidikan selayaknya.

Fenomena pendidikan yang banyak terjadi di Indonesia yaitu banyaknya masyarakat yang masih belum mendapat pendidikan yang layak. Walaupun sudah ada dibangun sekolah gratis, namun masalah ini masih belum dapat diatasi sepenuhnya. Sebagian besar sekolah juga berorientasi untuk mengejar profit, sehingga melupakan tujuan utamanya yang seharusnya mencerdaskan seluruh anak bangsa.

Itulah pembahasan dari kami mengenai Fenomena-fenomena pendidikan yang ada. Sekian dan terimakasih.


Daftar Pustaka:
Kasus:
http://ndal.wordpress.com/2007/05/17/fenomena-pendidikan-mereka-ramai-ramai-ke-homeschooling/
http://www.cerita-ilmuku.co.cc/2011/01/fenomena-pendidikan-indonesia-2.html
http://zainurie.wordpress.com/2008/10/14/laskar-pelangi-dan-fenomena-pendidikan-kita/

Referensi Pembahasan:
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/alternative-medicine/1935058-untung-rugi-home-schooling-bagi/
http://www.masbow.com/2010/10/psikologi-pendidikan.html
http://blog.uny.ac.id/sudrajat/2010/07/30/values-clarification-dalam-pendidikan-moral/
http://linakura.multiply.com/journal/item/9
http://anakbanyumas.wordpress.com/2010/02/15/home-scholing-baik-buruk-alternatif-model-pendidikan-di-indonesia/
http://101301025s.blogspot.com/2011/01/apa-keuntungan-dan-kerugian.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

3 komentar:

Putri Feb Timeline mengatakan...

apakah benar guru pertama anak ialah orang tua?

Anonim mengatakan...

Good information! Thankyou!
Lembah Cirendeu
Lembah Cirendeu

indra yunan mengatakan...

Thanks For information... i enjoy reading for article information,...
cloud you take the time article information
click Now
Kampusnya Atlet

Posting Komentar

Google Talk